Jumat, 29 Mei 2015

         EKSISTENSI “KOMPAS KEHIDUPAN” MASYARAKAT DI TENGAH PERUBAHAN BANGSA

          Perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi membuat segalanya ikut terjerus dalam sebuah perubahan. Perubahan datang dengan begitu cepat, tak ada ancang-ancang sedikitpun bagi kita untuk mempersiapkan itu semua. Perubahan di berbagai bidang telah merasuk kedalam sendi-sendi dan lika–liku kehidupan. Tak ayal, bangsa yang tak mampu pun akan tertinggal dengan kecepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan begitu cepat merambah dan mempengaruhi segalanya, dalam setiap hal kita akan terjerus oleh perubahan tersebut. Hampir seluruh bidang telah dipengaruhi oleh sebuah perubahan. Perubahan terjadi melalui berbagai banyak proses. Mulai dari pertukaran kebudayaan hingga hubungan perdagangan.
         Ketika kita berbicara mengenai Indonesia, yang terbangun dan terbenak dalam pikiran kita adalah  Bangsa yang Kaya tapi Miskin. Negeri yang katanya kaya Sumber Daya Alam nyatanya Miskin. Negeri yang katanya Sejahtera nyatanya Sengsara. Negeri yang katanya adil dan makmur, nyatanya Tidak seperti itu. Beribu pulau ada di Indonesia. Beragam hasil laut dan alam ada di Indonesia. Berbagai keragaman budaya, bahasa, suku, ras, dan bahkan segala yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainpun ada di negeri yang penuh dengan susu dan madu ini. Namun mengapa Bangsa ini belum bisa maju ? Mengapa bangsa ini seolah menjadi bangsa yang terbentuk dengan motif untuk memenuhi kebutuhan perut rakyatnya saja ? Mungkin pertanyaan itu menyadarkan dan mengetuk pintu hati kita yang paling terdalam untuk turut prihatin.
        Ada banyak motif dan penyebab mengapa indonesia sulit untuk berubah menjadi negeri yang maju dan mendapatkan kata layak sebagai negara yang berdaulaut. Sendi-sendi kehidupan negara telah dikuasai oleh berbagai pihak-pihak asing, baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi maupun pertahanan negara. Selain itu faktor ketidakdisiplin masyarakatnya membuat sering kali negeri ini sulit untuk diubah. Menurut beberapa ahli, sulit sekali rasanya membuat sebuah negara berkembang menjadi sebuah negara maju tanpa memiliki modal atau power apapun yang dimiliki oleh negara tersebut. Lantas apa yang harus dilakukan bangsa ini ? langkah apa yang diperlukan untuk menyelamatkan harkat dan martabat bangsa ini ? pernahkah kita berfikir bahwa lambat laun indonesia akan dijajah kembali oleh bangsa-bangsa lainnya ?
         Penyebab lainnya yang mengakibatkan mengapa negara yang subur dan makmur ini sulit untuk berubah adalah rasa nasionalisme serta kepentingan-kepentingan yang saling berbenturan. Sejuta masalah ada di negeri ini. Segudang kasus pun ada di negeri ini. Namun sering kali permasalahan-permasalahan yang ada di negeri ini tidak usut kelar dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Justru melalui berbagai pengamatan saya, masalah-masalah yang ada hanya ditimpakan dengan masalah-masalah baru yang berganti secara cepat. Sehingga kesannya hanya sebagai pengalihan isu belaka saja. Benar-benar rekayasa yang terstruktur, sistematis, dan masif. Hal ini membuktikan bahwa bangsa ini sudah sangat diambang kehancuran dan kegagalan sebagai bangsa yang adil, makmur, damai, sejahtera, serta negara yang berdaulat atas kekayaan alamnya sendiri. Namun, pernahkah selama ini kita berfikir mengapa kita terus menyalahkan pemerintah dalam ketidakbergunaan sistem yang dibangun ? mengapa kita selalu hanya bisa mencaci maki, mengejek, berdemo, menunjukkan aksi anarkis bila kita tidak mendapatkan keadilan? Pernahkah kita sebagai manusia selayaknya berintropeksi diri melihat segala realita yang ada di negeri kita sendiri ? Kemanakah rasa kepekaan sosial kita terhadap lingkungan sekitar kita ? Mungkinkah pemerintah sanggup mengurusi segala permasalahan-permasalahan yang ada, dari unit terkecil sampai unit terbesar dari Sabang sampai Merauke ?
       Memang selayaknya pemerintah itu memiliki tugas dan tanggung jawab yang tinggi untuk mengurusi rakyatnya. Bila pemerintah selama ini tidak memihak pada rakyat, untuk apa diadakannya berbagai macam kebijakan yang pro kepada rakyat? Tapi kemungkinan tak bisa dipungkiri, opini masyarakat yang beredar diluar sana adalah bahwa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah hanyalah pencitraan belaka saja. Kemungkinan itu karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Melalui tulisan ini saya mau menyampaikan bahwa apakah seluruh perubahan yang terjadi pada negara ini juga bukan bagian tanggung jawab dari kita bersama ?. Salah satu mengapa negara ini belum bisa menuju pada tahap perubahan adalah karena ketidakkonsistensian kita dalam segala aktivitas dan karakter kita. Bukankah sekecil aktivitas dan perilaku yang kita tampilkan itu akan mempengaruhi segala unsur-unsur yang lainnya ? Saya harus mengatakan bahwa karakter yang kita miliki dalam setiap diri itu merupakan wujud dari pada karakter bangsa kita sendiri. Selama ini, kita sebagai bangsa Indonesia hanya memiliki tujuan-tujuan belaka yang masih belum mampu untuk berfikir global, bahwa apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kebutuhan orang lain, dan apa yang kita lakukan belum tentu bermanfaat dan disukai oleh orang lain. Bukankah selama ini kehancuran negara dan bangsa ini kita juga yang menyebabkannya ? Sering kali kita sebagai manusia cenderung memiliki sifat egois, pragmatisme, dan bahkan mengikuti seluruh keinginan daging. Saya berfikir jika seluruh umat dan seluruh masyarakat di negeri ini memiliki sifat dan karakter seperti itu, bukankah karakter dan identitas bangsa kita juga seperti itu ? bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya ? coba mari kita renungkan hal tersebut dalam diri kita masing-masing. Sehingga dampaknya pun berimbas pada bangsa kita. Bangsa kita memiliki karakter yang seperti itu. Dikuasai oleh berbagai kepentingan egoisme, pragmatisme, hedonisme dan tak menghiraukan unsur-unsur kecil yang ada di dalamnya.
      Untuk itu saya mau menekankan tentang pentingnya eksistensi kompas kehidupan, kompas kehidupan bisa diartikan sebagai landasan filosofi yang menaungi segala tujuan kehidupan dari pada manusia itu sendiri. Apa yang dicari manusia dalam hidupnya, dan apa yang diinginkan setiap orang dari berbagai unsur-unsur tertentu guna membangun bangsanya?. Inti dari kompas kehidupan adalah bagaimana mengarahkan segala tujuan seseorang dengan mengenali terlebih dahulu karakter pribadi diri masing-masing, guna mencapai perubahan yang baik dan sistematis.  Saya mau katakan Apakah Tujuan dari didirikannya negara ini? apakah tujuan dibentuknya sistem yang begitu hebatnya sehingga kita pun yang membuat sistem itu sendiri tak mampu untuk menjalaninya ? kemanakah arah negara kita akan terjerus ? dan kemanakah arah para pemuda serta agen-agen perubahan mulai dari unit terkecil sampai unit terbesar akan berlabuh ? Berbagai sudut pandang mengatakan bahwa mengubah indonesia adalah dengan cara pendidikan karakter, pelatihan kepemimpinan, pelatihan kerja, dan lain-lainnya. Namun apakah dengan pendidikan karakter dan beragam cara yang dilakukan bisa terlihat hasilnya ? apakah bisa berhasil ? mari coba sesaat kita merenungkannya. Dimana tingkat keberhasilan pendidikan karakter, pelatihan kepemimpinan dengan perubahan bangsa ? nyatanya masih saja tetap seperti itu. Banyak orang yang bisa memimpin orang banyak, tapi barangkali ia pun belum mampu memimpin dirinya sendiri, banyak orang yang mengeluarkan kata-kata yang hebat, padahal aslinya ia berdusta ? banyak orang yang membuat dan memperketat kebijkan dalam bidang angggaran, nyatanya orang tersebutlah yang mengambil uang negara ?.
            Negeri ini membutuhkan kejelasan arah kehidupan, rasanya terlalu tinggi ketika kita berbicara mengenai perubahan. Bahkan mustahil rasanya mewujudkan perubahan itu sendiri kalau kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum mampu menyadari hakikat dirinya sendiri, belum mampu menyadari eksistensi dan esensi kehadirannya ditengah-tengah bangsa ini. Dan sulit rasanya mengubah bangsa dan negeri ini, ketika kita sendiri belum mampu untuk merubah diri kitasendiri. Setelah itu baru kita layak untuk menuntut sebuah perubahan tersebut. Banyaknya kemauan tidak sejalan dengan tugas dan tanggung jawab yang kita lakukan. Menuntut itu pasti, tapi bekerja dan menjalaninya belum pasti. Saya percaya ketika kita telah mengenal masing-masing karakter, sifat, sikap, kebudayaan, dan lain-lainnya yang ada di dalam diri dan lingkungan kita sendiri niscaya bangsa kita pun akan mencerminkan sifat dan karakteristik yang seperti itu.  Untuk itu saya ingin seluruh masyarakat indonesia jangan dulu mengatakan dan bermimpi kearah sebuah perubahan, jika ia sendiri pun tak mampu mengubah dirinya sendiri. Memang perubahan itu datangnya sangat cepat, siap tidak siap, suka tidak suka, perubahan itu datang kepada kita semua. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kedatangan perubahan itu dengan baik, dan bijaksana. Untuk itu melalui essay ini, saya mengingatkan bahwa sebelum mengarah keperubahan yang besar bagi bangsa ini, kita harus memperjelas dulu makna dari kata-kata berikut ini : Siapakah Saya ? untuk apa saya hidup ? kemanakah arah tujuan hidup saya ? apa saja yang telah saya lakukan untuk bangsa dan negara ini ? pantaskah saya menuntut hak sebelum kewajiban saya dilakukan ?
     Mungkin sepenggal pertanyaan itu bisa membuka pemikiran kita bersama sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang selayaknya bekerjasama satu sama lain tanpa memandang unsur SARA, berinteraksi yang harmonis, memahami satu persatu kebiasaan dan karakteristik orang-orang tertentu, memahami betapa pentingnya kehadiran sebuah arah tujuan hidup yang jelas. Ketika kita sebagai manusia dan insan generasi penerus bangsa hampir rata-rata memiliki hati, karakter, dan kepribadian yang baik, maka bangsa kita kita pun pasti akan menjadi bangsa yang baik, bijaksana, beradap dan berdaulat, adil dan makmur, serta penuh dengan kebahagiaan dan kesejahteraan.







“HAL YANG PALING ESENSIAL DAN DIBUTUHKAN OLEH NEGERI INI ADALAH PERTOBATAN, NISCAYA PERTOBATAN YANG SUNGGUH-SUNGGUH MEMBUAT BANGSA DAN NEGARA INI MAJU DITENGAH-TENGAH PERUBAHAN YANG SEMAKIN MENGGLOBAL”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar