EKSISTENSI WANITA DI TENGAH PEMBANGUNAN DUNIA MODERN.
Kemajuan dan
perkembangan zaman menuntut segalanya menjadi berubah. Tak ada batasan
perubahan yang dapat dihindari oleh manusia. Manusia seolah turut ikut terjerat
dalam perubahan tersebut. Perubahan dalam dunia pendidikan, teknologi dan
informasi, pekerjaan, serta perubahan dalam bentuk status kehidupan.
Pembangunan suatu negara bisa dikatakan tak lepas dari sebuah arus modernisasi.
Dimana modernisasi membuat segalanya berubah. Dari tradisional menjadi modern,
dari tahap tertinggal menuju tahap kemajuan dan kemandirian. Sejatinya,
Modernisasi juga mengubah struktur dan tatanan kehidupan manusia. Hal ini tak
terlepas dari adanya suatu pengaruh pengubahan bentuk manusia seutuhnya. Dari
manusia dengan pemikiran primitif menuju manusia modern yang sepenuhnya realistis,
logic, dan hedonisme.
Perkembangan dan Pembangunan suatu negara juga ditandai dengan
lahirnya beberapa kaum pelopor yang besar dan hebat. Mulai dari pelopor
kebebasan beragama, hingga pelopor kesetaraan gender. Penuntutan kebutuhan dan
hak haruslah terpenuhi. Untuk itu, seiring dengan tergerusnya zaman modern yang
cenderung mengglobal, perubahan pesat terjadi pada status kesetaraan peran dan
partisipasi seseorang di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya Kaum
Wanita sebagai pelopor kesetaraan Hak dan Peran dalam dunia yang kian
mengglobal nan modern ini.
Hakikinya, carut marut perkembangan suatu negara tak terlepas
daripada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam negeri itu sendiri.
Pemberdayaan Wanita dalam segala bidang mulai dilakukan. Gerakan Feminisme yang
muncul disetiap negara membuat setiap wanita terjerus untuk ikut didalamnya.
Eksistensi dan Pengaruh wanita dalam dunia era modern mulai memberikan
sumbangsih yang begitu besar. Hal ini terbukti dengan adanya pembuktian secara
empiris bahwa wanita hakikiya memiliki peran ganda. Peran Ganda sebagai
Pembantu atau Penolong dan sebagai Wanita Karier (Pekerja). Peran ganda
tersebut membuktikan bahwa pada kenyataannya wanita tidak dapat diremehkan dan
dianggap enteng, terutama dalam hal pembangunan suatu negara, baik dalam
pembangunan ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial lainnya. Karenanya,
laki-laki dan wanita di zaman era modern ini dianggap seimbang dan saling
memberikan kontribusi tertentu terhadap pekerjaan dan pelayanan yang
dilakukannya. Kesemuanya adalah dasar dari wujud pengaplikasian kesetaraan
gender yang ada dan berlaku di negeri ini.
Dalam hal pembangunan
sering sekali dibahas mengenai persamaan gender dalam pembangunan, dimana fokus
utama yang dimaksudkan adalah bagaimana melibatkan perempuan di dalam
pembangunan sebagaimana laki-laki. Permasalahan ini disebabkan oleh rendahnya
kualitas sumber daya manusia perempuan itu sendiri, tentu saja rendahnya sumber
daya manusia ini juga karena kurang terbukanya akses perempuan dalam hal
perbaikan sumber daya, hal ini menyebabkan kaum perempuan tidak dapat bersaing
dengan kaum laki-laki di dalam pembangunan. baik dalam hal apapun itu.
Munculnya kaum Wanita sebagai pelopor kesetaraan peran dan
partisipasi, sebagai wujud dari adanya keresahan di tengah-tengah pertumbuhan
dan guncangan peran laki-laki yang mulai menurun. Sebagian ada yang menganggap
bahwa kedepannya wanitalah yang akan menggantikan peran sekaligus pekerjaan
yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Hal ini didasari oleh survey yang
menunjukkan bahwa jumlah laki-laki tidaklah sebanding banyaknya jumlah Perempuan. Perkembangan dan
Pembangunan upaya pemberdayaan wanita, dari zaman dulu hingga sekarang mulai
marak terjadi. Hal ini ditandai dengan banyaknya karya, sumbangsih, dorongan
untuk maju dan memberikan yang terbaik. Hakikinya, gender lebih tepat selalu
menitikberatkan pada partisipasi dan peran wanita dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, wanita tidak lagi ditempatkan sebagai “lian” (pembantu). Tetapi
haruslah ditempatkan sejajar secara harkat dan martabatnya. Sebagaimana hal ini
telah diuraikan dan disampaikan oleh para ahli pelopor lahirnya kesetaraan kaum
dan peran kewanitaan .
Margareth Mead ialah salah satu tokoh yang memperjuangkan hak
serta kewajiban seorang wanita. Dimana, dua teorinya yang teramat sangat
populer pada masa itu dapat menarik perhatian lebih. Ia membagi wanita kedalam
dua peranan tertentu. Ia menyebutnya sebagai Nature dan Nurture. Dimana Nature
merupakan unsur kodrati dan alamiah yang dimiliki pada hidup seorang wanita,
dan Nurture adalah peran ganda diluar daripada peran kodrati yang diterimanya.
Kedua aspek fenomenal ini disampaikan melalui paparannya yang cukup
memprihatinkan pada saat itu. Ditengah-tengah kondisi wanita yang pada masa lalu
mengalami penindasan di segala bidang kehidupan. Margaret Mead menganggap,
bahwa kedua aspek tersebut cocok untuk diterapkan di desa maupun kota. Juga
cocok untuk zaman dahulu hingga zaman sekarang. Ia membagi nature kedalam peran
sebagai “kanca wingking” (pembantu
dibelakang), yang bisa diartikan sebagai ibu rumah tangga. Seorang perempuan
sepenuhnya harus bekerja mengurus anak, suami, masak, mencuci dan bekerja
didapur saja. Sedangkan Nurture adalah peran ganda yang dijalani wanita selain
dari pada peran kodrati tersebut. Misalnya,
wanita memiliki motivasi tinggi untuk bekerja, serta peran, kontribusi
dan fungsinya tak hanya sebagai wanita “kanca wingking”, tetapi setara dengan
laki-laki bahkan bisa lebih dari pada laki-laki. Kesemuanya itu sangatlah universal
dan fleksibel. Bahwa sejatinya dalam dunia modern ini wanita merupakan sosok
dan figur pembangunan, baik dalam segi pertumbuhan ekonomi maupun dari segi
peran dan partisipasi yang ada dalam keluarga.
Lihatlah betapa banyaknya wanita-wanita hebat di era sekarang.
Aku begitu kagum melihat sesosok wanita melakukan pekerjaan berat dan
menantang. Sebagian wanita hebat itu, kini dapat kita saksikan melalui mata
kita sendiri, nyata dan bukan rekayasa. Seolah menyindir dunia pertelevisian di
negeri ini yang semakin bobrok dan penuh sandiwara. Ada yang bekerja sebagai
pilot pesawat tempur, kondektur busway, presiden, hingga dalam berbagai
proyek-proyek borongan. Dahulu tak ada wanita yang mampu melakukan kesemua
pekerjaan tersebut. Tapi lihatlah kini, apa yang ada di depan mata kita telah
nyata. Wanita bertransformasi layaknya kepompong yang menjadi kupu-kupu. Indah
dalam proses perubahan peran, dan beracun baginya bila tak dimaknai secara baik
dan benar.
Sejatinya, wanita yang
hebat ialah
"SESOSOK MANUSIA YANG TAHU PERAN DAN
KEBERMAKNAAN HIDUPNYA DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar