POTRET
INDONESIA SEPANJANG TAHUN 2015
Inilah segudang cerita
tentang negeri ini. Negeri yang katanya kaya, makmur, dan jaya tidaklah seperti
itu. Berbagai kisah cerita dibalik layar tersembunyi telah terjadi. Baik suka
maupun duka. Semuanya telah nampak terbelalak. Tak ada yang mengerti mengapa
sekelumit peristiwa itu dapat terjadi. Tak ada juga yang dapat melakukan
ramalan secara tepat kapan dan dimana peristiwa itu muncul. Tapi inilah
faktanya. Fakta yang memberikan pembelajaran dan penyesalan bagi manusia di
dalamnya. Kesemuanya sulit untuk dimengerti. Waktu yang tak bisa berjalan
mundur, menjadi saksi dari rekam jejak perjalanan panjang sekelumit peristiwa
dan masalah pada negeri ini. Bila ditelisik lebih mendalam selama kurang lebih
setahun ini, tampaknya bencana lebih banyak menyapa negeri ini tinimbang unsur
kebahagiannya. Karena itu inilah peristiwa dan rentetan panjang yang terjadi
pada negeri ini di berbagai bidang.
Di bidang Pendidikan, pendidikan kita masih menuai
sekelumit permasalahan panjang di dalamnya. Tahun 2015 merupakan bukti dari
hancur dan gagalnya budaya pendidikan di negeri ini. Kasus pelecehan seksual
pada murid pernah terjadi di tahun ini. Tentu kisah masih mengingat kasus
Jakarta Internasional School (JIS). Miris bila kita telusuri lebih panjang dan
mendalam. Intinya, siswa yang tak memiliki daya dan kuasa menjadi korban
ketidakberdayaan dari Guru bajingan berhati binatang. Selain itu, kurikulum
pembelajaran di tahun 2015 pun menjadi pertanyaan besar bagi para peserta didik
dan lembaga sekolah yang bernaung di dalamnya. Ketidakjelasan sistem kurikulum
KTSP dan Kurtilas menunjukkan kebingungan yang tinggi dalam dunia pembelajaran
anak-anak kita. Bagai perahu yang kehilangan kompas, dan tak tahu harus
berlabuh kemana. Ketidakjelasan kurikulum yang dimaksudkan disini adalah,
adanya kebingungan terkait dengan kontroversi perintah yang diberikan menteri
pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan. Instruksinya yang menyuruh beberapa sekolah
untuk kembali kepada kurikulum 2006 karena faktor ketidaksiapan unsur-unsur
pendukung di dalamnya menjadi faktor pemicu kebingungan siswa dan
sekolah-sekolah lainnya. Mereka bingung harus mengikut siapa dan apa yang harus
diajarkan serta diterapkan bagi para siswa. Dalam tingkatan yang lebih tinggi
seperti Perguruan Tinggi, dunia pendidikan kita pun hancur oleh sekelumit
masalah. Lembaga Perguruan Tinggi di Negeri ini bisa dikatakan bagaikan sampah busuk
yang tak terurai. Lihatlah betapa mudahnya saat ini beberapa orang mendapatkan
ijazah Sarjana, Master, dan Doktor tanpa melalui proses dan latihan yang boleh
dibilang cukup panjang. Ijazah palsu menjadi pasar busuk dalam kepentingan
politik nan apatis. Ijazah palsu merupakan bukti nyata kebobrokan dan
ketidakberdayan dunia pendidikan kita. Dengan mudahnya seseorang bisa
mendapatkan ijazah palsu tersebut. Kesemuanya bisa didapatkan hanya dengan
sehelai barang yang dinamakan Uang. Uang dapat membeli segalanya, termasuk
gelar keakademikan dan keahlian diri seseorang. Mungkin ini adalah bagian
terlemah dari tidak berjalannya fungsi pengawasan terhadap dunia pendidikan di
tingkatan Perguruan Tinggi. Rasanya harga diri dunia pendidikan kita tak lebih
mahal dari tarif seorang PSK. Karena semuanya mengacu pada hasil, bukan proses.
Itulah hal unik dalam dunia pendidikan di tahun 2015 ini.
Dalam dunia Politik pun sama rupanya. Tak ada pembeda di
dalamnya. Kesemuanya bagaikan cat hitam dalam topeng sebuah monster. Sekelumit
masalah ada didalamnya. Retorika dan rekayasa politik masih menjadi senjata
utama di tahun ini. Lihatlah betapa banyak para pejabat di negeri ini yang
tersangkut kasus korupsi, kasus pencemaran dan pencatutan nama baik Presiden,
kasus perpecahan dalam dunia parlemen (pindahnya beberapa koalisi KMP balik
mendukung pemerintah), kasus saling sikut dan sindir diantara para menteri kala
ressuflle menteri mencuat kepermukaan, kasus perpecahan partai politik dalam
tubuh Golkar dan PKB, dan kasus-kasus lainnya yang terjadi di tahun ini.
Uniknya, sedari dulu hingga sekarang tradisi dan budaya politik kita tak pernah
berubah. Kepentingan individu dan golongan menjadi cermin dan acuan didalamnya.
Tak ada rasa malu sedikitpun yang dicerminkan dari kelakuan para pejabat dan
elit kekuasaan di negeri ini. Semua berkata dan berkampanye atas nama Rakyat.
Rupanya tanpa disadari oleh orang banyak yang tak berpendidikan, rakyat yang
dimaksud oleh mereka juga adalah diri mereka sendiri, dan golongan-golongan
seperjuangan mereka sendiri. Kelakuan dan tindakan yang memalukan
dipertontonkan dalam layar televisi. Seolah-olah ingin menunjukkan pada rakyat
banyak, bahwa eksistensi mereka bagaikan seoonggok bangkai yang menjijikkan dan
memuakkan bagi masyarakat yang melihatnya. Penindasan rakyat kecil terus
terjadi, kepentingan golongan dan permintaan kenaikan gaji para pejabat juga
ada di dalamnya, hukum tajam kebawah dan tumpul ke atas. Sandiwara politik dan
saling memanfaatkan kuasa untuk mengintervensi suatu permasalahan juga terjadi.
Seolah semua bagaikan panggung sandiwara. Tak ada hikmah dan kesan yang dapat
diambil untuk pembelajaran. Rasanya politik kita di tahun ini, jauh lebih mirip
disamakan dengan dunia sinetron yang telah terstruktur, rapih, dan rekayasa
murni di dalamnya. Itulah kesan yang dapat dipetik.
Dari dunia Teknologi, Informasi dan Komunikasi. Pada
bidang ini terjadi begitu banyak fenomena yang positif dan negatif. Ide dan
gagasan baru terjadi di tahun ini. Perkembangan dunia teknologi yang semakin
kejam nan bersaing membuat unsur interaksi sosial secara langsung menjadi
terkikis. Pasalnya, semua aplikasi dan kemudahan interaksi telah tercipta melalui
jejaring sosial. Hal ini memberikan kemudahan dalam ruang lingkup yang besar
dan waktu yang singkat. Di tahun 2015,
negeri ini dilanda begitu banyak hal-hal positif dan negatif. Kebebasan
seseorang untuk menjelajah di dunia maya memberikan bukti nyata di dalamnya.
Tak hanya positif, juga sering kali negatif. Dalam katagori positif, di tahun
2015 ini, ada begitu banyak ide dan pengembangan gagasan untuk kemudahan
masyarakat. Tentu kita masih ingat bagaimana gejala awal munculnya Gojek,
Grabike, dan Grab Car. Tumbuh bagaikan semut yang sedang sibuk menggrogoti
sebutir gula. Kehadirannya pun menuai pro dan kontra. Namun masyarakat luas
menganggap, bahwa kemunculan aplikasi online berbasis transportasi ini lebih
memberikan manfaat dan pengaruh positif di dalamnya ketimbang hal negatif. Hal
ini juga dirasakan sebagai langkah awal pengurangan jumlah pengangguran dan
pembukaan lapangan pekerjaan. Dalam dunia komunikasi, negeri ini layaknya lebih
menyukai unsur rekayasa dan sandiwara di dalamnya. Lihatlah sekarang ini,
bagaimana dunia pertelevisian kita ?. Hampir tak ada unsur edukasi yang bisa
kita dapatkan dari televisi saat ini. Beberapa stasiun TV saling menyerang, dan
tidak netral. Tak hanya itu, beberapa stasiun TV dengan bangga mempersembahkan
suguhan yang amat memalukan dan menjijikkan bagi para penontonnya. Hal ini
dikarenakan, kepentingan politik telah merambah dan mencemari dunia informasi
dan komunikasi pertelevisian di negeri ini. Rasanya KPI seolah menutup mata
akan fenomena dan peritiwa ini. Tak ada langkah kuat yang dapat dilakukan KPI,
karena mereka tau semua itu penuh resiko tinggi dan bahaya di dalamnya. Tentu
kita juga masih mengingat bagaimana Presiden di Repbulik ini disadap oleh
negeri lain, ini adalah bukti dari kekurangan kita, terkhusus dalam bidang
Teknologi, Informasi dan Komunikasi itu sendiri. Kesemuanya haruslah diperbaiki
dan diubah sedemikian rupa, agar tidak lagi terjadi peristiwa dan kejadian
kelam di tahun 2015 ini. Rasanya kesan dari dunia Teknologi, Komunikasi dan
Informasi yang dapat kita petik ialah kebaharuan yang dibentuk dengan tujuan
yang tak lebih dari sekedar dusta dan rekayasa belaka.
Peristiwa dan kejadian aneh juga terjadi dalam dunia
Transportasi, sejatinya negeri ini tak lagi menyediakan jasa transportasi yang
aman dan nyaman, sebagaimana hal ini harus sesuai dengan standar operasional
keselamatan Internasional. Jangankan internasional, dalam skala nasional saja
kita tak mampu untuk mencukupinya. Tahun 2015 menyumbang begitu banyak air mata
dan kepiluan hati. Seolah menyayat hati hingga empedu. Tentu saja, sayatan
tersebut karena begitu banyaknya musibah dan kelalaian manusia didalamnya,
seperti penipuan jasa transportasi, kecelakaan transportasi (baik darat, laut
dan udara), serta korupsi dan penyalahgunaan hak jalan pada beberapa operator
pengguna transportasi. Ketidakberdayaan dan etikad buruk pengelolaan
transportasi di negeri ini, memberikan penilaian negatif bagi hampir seluruh
masyarakat. Rasa cemas, takut, dan hati-hati pun muncul dalam diri setiap orang
terhadap transportasi yang ada di dalam negeri ini. Karena hakikinya, dunia
transportasi kita tak lebih dari sebuah pengejaran keuntungan nan kapitalis. Di
tahun ini, tentu kita masih ingat bagaimana kecelakaan dan dukacita yang
mendalam menghiasi dunia transportasi kita. Jatuh dan hilangnya beberapa
pesawat menghiasi kelamnya dunia transportasi di udara, tenggelamnya beberapa
kapal feri di perairan Indonesia menghiasi bencana dunia transportasi laut,
kecelakaan metromini dengan kereta dan terbakarnya beberapa busway di jalan
raya juga menunjukkan ketidaksiapan kita dalam mempertimbangkan unsur
keselamatan nyawa orang banyak. Kecelakaan tersebut dipicu dari adanya
ketidaksiapan pihak pengelola jasa transportasi di dalamnya, selain itu SDM dan
ketidaklayakan kondisi kendaraan yang ada pun belum memadai, namun tetap
dipaksakan. Belum selesai kecelakaan pesawat terjadi, di laut dan daratan sudah
muncul kembali kepermukaan, seolah-olah bencana dan musibah dalam dunia transportasi
kita adalah bagian dari cerminan perilaku warga yang berdiam dalam bangsa dan
negara ini. Perilaku yang kurang disiplin, tidak jujur, dan tidak memiliki
tanggung jawab penuh bagi keselamatan orang di dalamnya. Sehingga kesan yang
paling banyak dipetik oleh masyarakat kita dalam dunia transportasi tak lebih
daripada sebuah undian lotre, yang kadang beruntung dan kadang buntung. Bila
tidak beruntung, maka kecelakaan atau maut akan menjemputnya.
Dalam bidang Ekonomi dan Lingkungan pun, negeri ini
rasanya cukup tawar hati dan harus mau untuk menelan ludah. Sungguh, ini diluar
kendali dan musibah yang dikendalikan. Keduanya hampir sama, namun berbeda
dimensi saja. Carut marut dunia perekonomian kita di tahun 2015 memicu
banyaknya tuaian hujatan dan kontroversi di dalamnya. Percepatan pembangunan ekonomi
masyarakat kita memang merupakan tujuan utama dan etikad baik, namun lihatlah
sekerumit masalah di dalamnya. Dalam satu tahun saja, nilai tukar mata uang
Rupiah hampir tak menentu. Kadang jatuh dan terjerumus amat dalam, hingga
hampir mencapai Rp.15.000/dolar AS. Namun terkadang menguat di luar dugaan
semua pihak. Semua mata dan pihak tak mengerti mengapa masalah ini bisa
terjadi. Apakah ini masalah yang diluar kendali atau masalah yang sengaja dikendalikan
oleh pihak-pihak tertentu ?. semua boleh bertanya, semua boleh
mempersepsikannya dalam bentuk apapun itu. Karena sejatinya, manusia sosial tak
akan memandang sebuah unsur permasalahan hanya dari sudut pandang tertentu
saja. Melainkan unsur pandang yang universal dan mengglobal. Tak hanya itu, di
tahun 2015 ini, pembangunan ekonomi yang diwujudnyatakan pada percepatan
infrastruktur harus mengorbankan sesuatu. Sampai saat ini, hubungan kerjasama
ekonomi Indonesia dengan China serta Jepang mulai terganggu. Akibat utang luar
negeri dan bantuan yang tak saling menguntungkan. Misalnya, dalam proyek
kerjasama kereta cepat rute Jakarta-Bandung, dan penyediaan tenaga kerja asing
di negeri Ibu pertiwi ini. Semuanya dipandang sebagai salah satu sisi
permasalahan dunia ekonomi kita. Saking besarnya pengaruh perkembangan ekonomi
suatu negara yang mulai kolabs, hal ini pun merambah pada kelingkungan dan
habibat hidup makhluk hidup. Tentu peristiwa dan kejadian memilukan Kebakaran
Hutan di Sumatera dan Kalimantan sangat sulit untuk kita lupakan. Bak secercah
parasit yang terus menempel dalam diri seseorang. Kebakaran hutan di Sumatera
dan Kalimantan yang hampir membakar lahan seluas 5 Hektar ini menimbulkan
begitu banyak derita dan korban yang ada. Penyakit pun sudah pasti terjadi.
ISPA menjadi penyakit yang paling populer dan eksis. Hal ini dapat terjadi
karena manusia mulai melupakan unsur etika Lingkungan di dalamnya. Ketidakbertanggungjawaban
manusia akan alam pemberian Tuhan, memberikan bukti bahwa sejatinya manusia
merupakan insan yang rakus dan selalu tidak puas dengan apa yang didapatkannya.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, adalah wujud
dari ketidakberdayaan pemerintah kita dalam dunia perekonomian. Terbukti,
pembakaran hutan dan lahan ini dilakukan secara sengaja. Haluannya ialah demi
kepentingan ekonomi. Perusahaan-perusahaan besar asing dan lokal, menjadi
pelaku utama perusakan lingkungan ini. Pengubahan bentuk lahan dari hutan yang
tak terpakai dibuka dan diubah menjadi lahan sawit. Dengan hasil pengeluaran
yang rendah, nantinya akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hal ini,
merupakan ujud dari adopsi paham kapitalisme yang berkembang dalam masyarakat
kita. Pengrusakan hutan dan lahan hanya demi sebuah uang, menunjukkan betapa
busuknya iman, hati dan nurani para pemimpin di negara ini. Pemberian
legalisasi dan izin yang sewenang-wenang kepada perusahaan asing, ternyata
melahirkan datangnya bencana yang begitu kompleks nan rumit, hingga melibatkan
negara-negara dunia lainnya keram dan marah pada Indonesia. Karenanya boleh
jadi pembakaran hutan dapat dikatakan merupakan masalah yang dikendalikan oleh
manusia-manusia binatangisme. Bukan sepenuhnya bencana yang diberikan oleh alam
dan perut bumi.
Karenanya, kesemua yang
telah terjadi pada negeri ini, ingin menunjuknyatakan bahwa :
“NEGERI INI MEMILIKI
POTRET KEHIDUPAN YANG TAK LEBIH DARI PROBLEM DAN SEONGGOK SIFAT BINATANGISME
PADA MANUSIANYA”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar