Jumat, 01 Januari 2016

POTRET INDONESIA SEPANJANG TAHUN 2015

           Inilah segudang cerita tentang negeri ini. Negeri yang katanya kaya, makmur, dan jaya tidaklah seperti itu. Berbagai kisah cerita dibalik layar tersembunyi telah terjadi. Baik suka maupun duka. Semuanya telah nampak terbelalak. Tak ada yang mengerti mengapa sekelumit peristiwa itu dapat terjadi. Tak ada juga yang dapat melakukan ramalan secara tepat kapan dan dimana peristiwa itu muncul. Tapi inilah faktanya. Fakta yang memberikan pembelajaran dan penyesalan bagi manusia di dalamnya. Kesemuanya sulit untuk dimengerti. Waktu yang tak bisa berjalan mundur, menjadi saksi dari rekam jejak perjalanan panjang sekelumit peristiwa dan masalah pada negeri ini. Bila ditelisik lebih mendalam selama kurang lebih setahun ini, tampaknya bencana lebih banyak menyapa negeri ini tinimbang unsur kebahagiannya. Karena itu inilah peristiwa dan rentetan panjang yang terjadi pada negeri ini di berbagai bidang.
            Di bidang Pendidikan, pendidikan kita masih menuai sekelumit permasalahan panjang di dalamnya. Tahun 2015 merupakan bukti dari hancur dan gagalnya budaya pendidikan di negeri ini. Kasus pelecehan seksual pada murid pernah terjadi di tahun ini. Tentu kisah masih mengingat kasus Jakarta Internasional School (JIS). Miris bila kita telusuri lebih panjang dan mendalam. Intinya, siswa yang tak memiliki daya dan kuasa menjadi korban ketidakberdayaan dari Guru bajingan berhati binatang. Selain itu, kurikulum pembelajaran di tahun 2015 pun menjadi pertanyaan besar bagi para peserta didik dan lembaga sekolah yang bernaung di dalamnya. Ketidakjelasan sistem kurikulum KTSP dan Kurtilas menunjukkan kebingungan yang tinggi dalam dunia pembelajaran anak-anak kita. Bagai perahu yang kehilangan kompas, dan tak tahu harus berlabuh kemana. Ketidakjelasan kurikulum yang dimaksudkan disini adalah, adanya kebingungan terkait dengan kontroversi perintah yang diberikan menteri pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan. Instruksinya yang menyuruh beberapa sekolah untuk kembali kepada kurikulum 2006 karena faktor ketidaksiapan unsur-unsur pendukung di dalamnya menjadi faktor pemicu kebingungan siswa dan sekolah-sekolah lainnya. Mereka bingung harus mengikut siapa dan apa yang harus diajarkan serta diterapkan bagi para siswa. Dalam tingkatan yang lebih tinggi seperti Perguruan Tinggi, dunia pendidikan kita pun hancur oleh sekelumit masalah. Lembaga Perguruan Tinggi di Negeri ini bisa dikatakan bagaikan sampah busuk yang tak terurai. Lihatlah betapa mudahnya saat ini beberapa orang mendapatkan ijazah Sarjana, Master, dan Doktor tanpa melalui proses dan latihan yang boleh dibilang cukup panjang. Ijazah palsu menjadi pasar busuk dalam kepentingan politik nan apatis. Ijazah palsu merupakan bukti nyata kebobrokan dan ketidakberdayan dunia pendidikan kita. Dengan mudahnya seseorang bisa mendapatkan ijazah palsu tersebut. Kesemuanya bisa didapatkan hanya dengan sehelai barang yang dinamakan Uang. Uang dapat membeli segalanya, termasuk gelar keakademikan dan keahlian diri seseorang. Mungkin ini adalah bagian terlemah dari tidak berjalannya fungsi pengawasan terhadap dunia pendidikan di tingkatan Perguruan Tinggi. Rasanya harga diri dunia pendidikan kita tak lebih mahal dari tarif seorang PSK. Karena semuanya mengacu pada hasil, bukan proses. Itulah hal unik dalam dunia pendidikan di tahun 2015 ini.
            Dalam dunia Politik pun sama rupanya. Tak ada pembeda di dalamnya. Kesemuanya bagaikan cat hitam dalam topeng sebuah monster. Sekelumit masalah ada didalamnya. Retorika dan rekayasa politik masih menjadi senjata utama di tahun ini. Lihatlah betapa banyak para pejabat di negeri ini yang tersangkut kasus korupsi, kasus pencemaran dan pencatutan nama baik Presiden, kasus perpecahan dalam dunia parlemen (pindahnya beberapa koalisi KMP balik mendukung pemerintah), kasus saling sikut dan sindir diantara para menteri kala ressuflle menteri mencuat kepermukaan, kasus perpecahan partai politik dalam tubuh Golkar dan PKB, dan kasus-kasus lainnya yang terjadi di tahun ini. Uniknya, sedari dulu hingga sekarang tradisi dan budaya politik kita tak pernah berubah. Kepentingan individu dan golongan menjadi cermin dan acuan didalamnya. Tak ada rasa malu sedikitpun yang dicerminkan dari kelakuan para pejabat dan elit kekuasaan di negeri ini. Semua berkata dan berkampanye atas nama Rakyat. Rupanya tanpa disadari oleh orang banyak yang tak berpendidikan, rakyat yang dimaksud oleh mereka juga adalah diri mereka sendiri, dan golongan-golongan seperjuangan mereka sendiri. Kelakuan dan tindakan yang memalukan dipertontonkan dalam layar televisi. Seolah-olah ingin menunjukkan pada rakyat banyak, bahwa eksistensi mereka bagaikan seoonggok bangkai yang menjijikkan dan memuakkan bagi masyarakat yang melihatnya. Penindasan rakyat kecil terus terjadi, kepentingan golongan dan permintaan kenaikan gaji para pejabat juga ada di dalamnya, hukum tajam kebawah dan tumpul ke atas. Sandiwara politik dan saling memanfaatkan kuasa untuk mengintervensi suatu permasalahan juga terjadi. Seolah semua bagaikan panggung sandiwara. Tak ada hikmah dan kesan yang dapat diambil untuk pembelajaran. Rasanya politik kita di tahun ini, jauh lebih mirip disamakan dengan dunia sinetron yang telah terstruktur, rapih, dan rekayasa murni di dalamnya. Itulah kesan yang dapat dipetik.
            Dari dunia Teknologi, Informasi dan Komunikasi. Pada bidang ini terjadi begitu banyak fenomena yang positif dan negatif. Ide dan gagasan baru terjadi di tahun ini. Perkembangan dunia teknologi yang semakin kejam nan bersaing membuat unsur interaksi sosial secara langsung menjadi terkikis. Pasalnya, semua aplikasi dan kemudahan interaksi telah tercipta melalui jejaring sosial. Hal ini memberikan kemudahan dalam ruang lingkup yang besar dan waktu yang singkat.  Di tahun 2015, negeri ini dilanda begitu banyak hal-hal positif dan negatif. Kebebasan seseorang untuk menjelajah di dunia maya memberikan bukti nyata di dalamnya. Tak hanya positif, juga sering kali negatif. Dalam katagori positif, di tahun 2015 ini, ada begitu banyak ide dan pengembangan gagasan untuk kemudahan masyarakat. Tentu kita masih ingat bagaimana gejala awal munculnya Gojek, Grabike, dan Grab Car. Tumbuh bagaikan semut yang sedang sibuk menggrogoti sebutir gula. Kehadirannya pun menuai pro dan kontra. Namun masyarakat luas menganggap, bahwa kemunculan aplikasi online berbasis transportasi ini lebih memberikan manfaat dan pengaruh positif di dalamnya ketimbang hal negatif. Hal ini juga dirasakan sebagai langkah awal pengurangan jumlah pengangguran dan pembukaan lapangan pekerjaan. Dalam dunia komunikasi, negeri ini layaknya lebih menyukai unsur rekayasa dan sandiwara di dalamnya. Lihatlah sekarang ini, bagaimana dunia pertelevisian kita ?. Hampir tak ada unsur edukasi yang bisa kita dapatkan dari televisi saat ini. Beberapa stasiun TV saling menyerang, dan tidak netral. Tak hanya itu, beberapa stasiun TV dengan bangga mempersembahkan suguhan yang amat memalukan dan menjijikkan bagi para penontonnya. Hal ini dikarenakan, kepentingan politik telah merambah dan mencemari dunia informasi dan komunikasi pertelevisian di negeri ini. Rasanya KPI seolah menutup mata akan fenomena dan peritiwa ini. Tak ada langkah kuat yang dapat dilakukan KPI, karena mereka tau semua itu penuh resiko tinggi dan bahaya di dalamnya. Tentu kita juga masih mengingat bagaimana Presiden di Repbulik ini disadap oleh negeri lain, ini adalah bukti dari kekurangan kita, terkhusus dalam bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi itu sendiri. Kesemuanya haruslah diperbaiki dan diubah sedemikian rupa, agar tidak lagi terjadi peristiwa dan kejadian kelam di tahun 2015 ini. Rasanya kesan dari dunia Teknologi, Komunikasi dan Informasi yang dapat kita petik ialah kebaharuan yang dibentuk dengan tujuan yang tak lebih dari sekedar dusta dan rekayasa belaka.
            Peristiwa dan kejadian aneh juga terjadi dalam dunia Transportasi, sejatinya negeri ini tak lagi menyediakan jasa transportasi yang aman dan nyaman, sebagaimana hal ini harus sesuai dengan standar operasional keselamatan Internasional. Jangankan internasional, dalam skala nasional saja kita tak mampu untuk mencukupinya. Tahun 2015 menyumbang begitu banyak air mata dan kepiluan hati. Seolah menyayat hati hingga empedu. Tentu saja, sayatan tersebut karena begitu banyaknya musibah dan kelalaian manusia didalamnya, seperti penipuan jasa transportasi, kecelakaan transportasi (baik darat, laut dan udara), serta korupsi dan penyalahgunaan hak jalan pada beberapa operator pengguna transportasi. Ketidakberdayaan dan etikad buruk pengelolaan transportasi di negeri ini, memberikan penilaian negatif bagi hampir seluruh masyarakat. Rasa cemas, takut, dan hati-hati pun muncul dalam diri setiap orang terhadap transportasi yang ada di dalam negeri ini. Karena hakikinya, dunia transportasi kita tak lebih dari sebuah pengejaran keuntungan nan kapitalis. Di tahun ini, tentu kita masih ingat bagaimana kecelakaan dan dukacita yang mendalam menghiasi dunia transportasi kita. Jatuh dan hilangnya beberapa pesawat menghiasi kelamnya dunia transportasi di udara, tenggelamnya beberapa kapal feri di perairan Indonesia menghiasi bencana dunia transportasi laut, kecelakaan metromini dengan kereta dan terbakarnya beberapa busway di jalan raya juga menunjukkan ketidaksiapan kita dalam mempertimbangkan unsur keselamatan nyawa orang banyak. Kecelakaan tersebut dipicu dari adanya ketidaksiapan pihak pengelola jasa transportasi di dalamnya, selain itu SDM dan ketidaklayakan kondisi kendaraan yang ada pun belum memadai, namun tetap dipaksakan. Belum selesai kecelakaan pesawat terjadi, di laut dan daratan sudah muncul kembali kepermukaan, seolah-olah bencana dan musibah dalam dunia transportasi kita adalah bagian dari cerminan perilaku warga yang berdiam dalam bangsa dan negara ini. Perilaku yang kurang disiplin, tidak jujur, dan tidak memiliki tanggung jawab penuh bagi keselamatan orang di dalamnya. Sehingga kesan yang paling banyak dipetik oleh masyarakat kita dalam dunia transportasi tak lebih daripada sebuah undian lotre, yang kadang beruntung dan kadang buntung. Bila tidak beruntung, maka kecelakaan atau maut akan menjemputnya.
            Dalam bidang Ekonomi dan Lingkungan pun, negeri ini rasanya cukup tawar hati dan harus mau untuk menelan ludah. Sungguh, ini diluar kendali dan musibah yang dikendalikan. Keduanya hampir sama, namun berbeda dimensi saja. Carut marut dunia perekonomian kita di tahun 2015 memicu banyaknya tuaian hujatan dan kontroversi di dalamnya. Percepatan pembangunan ekonomi masyarakat kita memang merupakan tujuan utama dan etikad baik, namun lihatlah sekerumit masalah di dalamnya. Dalam satu tahun saja, nilai tukar mata uang Rupiah hampir tak menentu. Kadang jatuh dan terjerumus amat dalam, hingga hampir mencapai Rp.15.000/dolar AS. Namun terkadang menguat di luar dugaan semua pihak. Semua mata dan pihak tak mengerti mengapa masalah ini bisa terjadi. Apakah ini masalah yang diluar kendali atau masalah yang sengaja dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu ?. semua boleh bertanya, semua boleh mempersepsikannya dalam bentuk apapun itu. Karena sejatinya, manusia sosial tak akan memandang sebuah unsur permasalahan hanya dari sudut pandang tertentu saja. Melainkan unsur pandang yang universal dan mengglobal. Tak hanya itu, di tahun 2015 ini, pembangunan ekonomi yang diwujudnyatakan pada percepatan infrastruktur harus mengorbankan sesuatu. Sampai saat ini, hubungan kerjasama ekonomi Indonesia dengan China serta Jepang mulai terganggu. Akibat utang luar negeri dan bantuan yang tak saling menguntungkan. Misalnya, dalam proyek kerjasama kereta cepat rute Jakarta-Bandung, dan penyediaan tenaga kerja asing di negeri Ibu pertiwi ini. Semuanya dipandang sebagai salah satu sisi permasalahan dunia ekonomi kita. Saking besarnya pengaruh perkembangan ekonomi suatu negara yang mulai kolabs, hal ini pun merambah pada kelingkungan dan habibat hidup makhluk hidup. Tentu peristiwa dan kejadian memilukan Kebakaran Hutan di Sumatera dan Kalimantan sangat sulit untuk kita lupakan. Bak secercah parasit yang terus menempel dalam diri seseorang. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang hampir membakar lahan seluas 5 Hektar ini menimbulkan begitu banyak derita dan korban yang ada. Penyakit pun sudah pasti terjadi. ISPA menjadi penyakit yang paling populer dan eksis. Hal ini dapat terjadi karena manusia mulai melupakan unsur etika Lingkungan di dalamnya. Ketidakbertanggungjawaban manusia akan alam pemberian Tuhan, memberikan bukti bahwa sejatinya manusia merupakan insan yang rakus dan selalu tidak puas dengan apa yang didapatkannya. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, adalah wujud dari ketidakberdayaan pemerintah kita dalam dunia perekonomian. Terbukti, pembakaran hutan dan lahan ini dilakukan secara sengaja. Haluannya ialah demi kepentingan ekonomi. Perusahaan-perusahaan besar asing dan lokal, menjadi pelaku utama perusakan lingkungan ini. Pengubahan bentuk lahan dari hutan yang tak terpakai dibuka dan diubah menjadi lahan sawit. Dengan hasil pengeluaran yang rendah, nantinya akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hal ini, merupakan ujud dari adopsi paham kapitalisme yang berkembang dalam masyarakat kita. Pengrusakan hutan dan lahan hanya demi sebuah uang, menunjukkan betapa busuknya iman, hati dan nurani para pemimpin di negara ini. Pemberian legalisasi dan izin yang sewenang-wenang kepada perusahaan asing, ternyata melahirkan datangnya bencana yang begitu kompleks nan rumit, hingga melibatkan negara-negara dunia lainnya keram dan marah pada Indonesia. Karenanya boleh jadi pembakaran hutan dapat dikatakan merupakan masalah yang dikendalikan oleh manusia-manusia binatangisme. Bukan sepenuhnya bencana yang diberikan oleh alam dan perut bumi.

Karenanya, kesemua yang telah terjadi pada negeri ini, ingin menunjuknyatakan bahwa :


“NEGERI INI MEMILIKI POTRET KEHIDUPAN YANG TAK LEBIH DARI PROBLEM DAN SEONGGOK SIFAT BINATANGISME PADA MANUSIANYA”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar