Kamis, 07 Juli 2016

SELAMAT JALAN MAESTRO PENDIDIKAN 

NAN KONTROVERSIAL.

Rawamangun kembali berkabung. Bukan karena kasus Drop Out yang menimpa mahasiswanya, tapi kini Rawamangun tengah diselimuti oleh duka yang mendalam. UNJ kini harus rela kehilangan agen intelektual terbesarnya. Dr. Nusa Putra, S.Fill., M.Pd kini telah dipanggil oleh Yang Maha Ada dan Yang Maha Kuasa. Sungguh duka yang mendalam dan memilukan. Inilah kematian, tragis tanpa bisa diuraijelaskan oleh akal yang logis. Semua telah terstruktur dan terjadi begitu saja. Kematian itu pasti terjadi, tak ada satu manusia pun yang dapat mencegah atau memanipulasinya. Ia datang bagaikan guntur bumi yang menyerang fajar pagi hari, meluluhlantakkan siapapun tanpa terkecuali. Kematian juga tak memandang derajat dan kasta yang berlaku. Kematian bisa datang pada siapa saja dan kapan saja. Kini, kematian itu datang dan menyapa Sang Maha Guru dan Maestro Pendidikan yang dimiliki oleh Universitas Negeri Jakarta.

Tulisan ini kubuat sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormatku terhadapnya. Berita kematian tentangnya hampir membuat seluruh umat manusia yang mengenalnya tak percaya. Karena sejatinya, Ia adalah orang yang selalu tampil enerjik, kuat, berani menentang kematian, dan gigih. Bila difikirkan, mana mungkin secepat itu akan pergi meninggalkan kita. Semasa hidupnya, ada banyak fenomena dan kontroversi yang terjadi. Ia adalah salah satu dari sekian juta umat manusia yang begitu fenomenal dan kontroversial. Terkadang, orang-orang disekitarnya tak mampu menangkap makna tersirat dihelai matanya tersebut. Padahal ia hanya ingin menyampaikan dalih kebenaran dan pemahaman empatis dalam konteks yang majemuk.
            
Begitu banyak pengalaman dan cerita yang mungkin tak dapat kuuraijelaskan satu persatu. Bagiku, beliau adalah orang baik. Aku percaya itu, karena kedekatan dan pendekatan yang terjadi selama ini. Bapak Nusa Putra adalah seonggok daging yang memiliki sifat bijaksana, kontroversi, penentang kejahatan dan kematian, serta penulis lihai dengan pola bahasa yang cukup mudah dimengerti. Pola pikirnya yang nakal dalam mengolah suatu informasi, tak jarang menghadirkan gelitik tawa dan canda dalam kekeluargaan. Ada banyak ilmu yang Ia amalkan, tak terhitung berapa banyak anak didik yang kagum pada gaya mengajarnya. Kala menjadi Dosen, beliau selalu disiplin. Ia sadar dan tahu betul, bahwa ia sosok yang ditiru dan digugu oleh Mahasiswanya. Beliau begitu inspiratif, dengan gayanya yang khas dalam semangat pencerdasan, beliau mampu menyusun dan mempersepsikan posisinya mengajar dengan tingkat kecerdasan setiap anak didiknya yang berbeda. Ia selalu memberikan kesempatan pada setiap anak didiknya untuk maju dan bertumbuhkembang. Ia tak pernah menilai dan memberikan suatu judtifikasi benar ataupun salah. Yang terpenting baginya ialah “prosesnya” bukan “hasil yang instan”. Karena itu, inilah alasan yang selama ini membuat beliau mengajar dan sekaligus menentang pola pendidikan konservatif di Indonesia dalam konteks pendidikan dunia modern. Ia begitu sangat amat kontroversial, karena bagiku ia berani tampil berbeda dibandingkan dengan Dosen lainnya. Bukan berarti karena Ia paling hebat, tapi ia adalah Maetro Pendidikan yang ditumbuhkembangkan dalam balutan kepercayaan diri yang tinggi, dan dibekali dengan ketegasan, keseriusan serta niatan tulus. Baginya yang terpenting dalam sebuah pembelajaran adalah bagaimana ia mampu memberikan kebermaknaan yang mendalam pada anak didiknya.   

Dalam prinsip kehidupan lainnya seperti Agama, Politik, Budaya, Sastra, dan SOSIAL adalah taji dalam hidupnya. Ia mampu berdikari diatas kakinya sendiri demi mempertahankan prinsip keadilan dan kebenaran sejati. Ia begitu konsisten, tak ragu, dan tak mudah diombang-ambingkan oleh situasi apapun. Dalam hal Agama misalnya, tak usah diragukan lagi. Beliau adalah sosok yang taat akan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tak jarang beliau sesekali menentang aliran sesat dalam Islam. Ia sendiri mengakuinya, bahwa Ia bukanlah manusia yang berhati mulia nan suci. Ia selalu katakan itu berulang kali pada setiap mahasiswanya. Beliau banyak membagikan cerita dan ilmu yang mendalam dalam buku yang telah dicetaknya. Ia miris melihat kemunduran dan perpecahan umat muslim ditengah kemajuan peradaban dunia. Tak jarang, itulah yang membuat beliau jauh lebih menghargai dan meneladani sosok “Iblis”  tinimbang manusia yang bertopeng religius namun hatinya penuh dengan kepalsuan dan kebusukan. Karena itu ia begitu banyak menceritakannya dalam buku yang berjudul “Keteladanan Iblis” . Disisi lain, beliau pun banyak mendalami dan mempelajari ilmu agama lainnya. Ia begitu paham tentang Kristen, Konghucu, Hindu-Buddha dan sebagian agama lainnya secara akurat dan benar. Tak jarang, aku begitu kagum padanya. Cara pandangnya mendalami kebenaran yang datang dari setiap agama mampu diuniversalisasikan olehnya. Karena bagiku, hanya ia yang mampu mengerti konsep keimanan akan Tuhan yang sejati. Tanpa sedikitpun berstigma buruk kepada agama lainnya. Karena baginya, orang yang beragama bukanlah orang yang hafal begitu banyak ayat dalam kitab suci, tapi baginya orang yang beragama ialah orang yang mengimplementasikannya dalam bentuk perbuatan nyata, kepedulian terhadap sesama dan mau berbagi. Karena itulah, beliau begitu mengagumi sosok Nabi Muhammad SAW, Isa A.S, Umar bin Khatab, Mahatmagandi, Paulus, Sidharta Gautama dan lain sebagainya. Beliau begitu Indonesianis. Baginya perbedaan ialah hal yang sejatinya wajar. Berbeda bukan berarti bertengkar. Berbeda adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan menuju sebuah persamaan. Inilah pesan universal yang iya sampaikan seketika waktu padaku dalam hal keimanan akan Tuhan yang sejati. “Apapun agama kalian, ketika Kita yakin terhadap sesuatu yang kita yakini maka jalankan, ketika kita tak lagi percaya maka tinggalkan, kebenaran sejati tak perlu diperdebatkan”.  Karena iman lahir bukan dari akal rasional nan logis, tapi lahir dari keyakinan akan kebatinan dan kebathilan. Semasa hidupnya, beliau percaya bahwa agama apapun yang ada di dunia ini, tak ada yang mengajarkan kejahatan dan penindasan. Namun niat jahat dan kepentingan busuklah yang merusak citra terhadap keyakinan suatu agama tersebut. Sungguh, diluar naluriku untuk menganalisa secara mendalam tentang apa yang ditangkap dan diajarkannya kembali kepada kami.
            
Begitu juga dalam hal budaya dan politik, beliau sosok yang begitu menghargai perbedaan budaya dalam balutan kultur yang beragam. Beliau begitu sopan dan santun, gaya tutur kata, pengolahan serta pemilahan kata dengan bijak mampu memberikan citra baik bagi setiap manusia di lingkungan sekitarnya berada. Ia sosok sejati yang begitu mudah beradaptasi dalam beragam budaya. Baik budaya dan tradisi purbakala di zaman dahulu, hingga budaya dan tradisi kekinian nan modern. Sampai ajal menjemputnya, ia merupakan sosok yang tak pernah sedikitpun mau untuk diajak berpolitik busuk oleh para koruptor, negosiator, dan rektor yang provokator. Siapapun biang kejahatan, dia bersedia menjadi orang pertama yang siap menentang dan menumpasnya. Walaupun terkadang seseorang menangkap makna tersebut dalam konteks keburukan yang datang pada dirinya. Ia pernah dimusuhi, dijauhi, dan bahkan berkali-kali dimutasi mengajar ke fakutltas lainnya. Oknum-oknum nakal rezim otoritarianisme belum puas mengahabisi dan memusuhinya sampai kala ajal menjemputnya. Sungguh kesabaran dan ketahanujian yang harus diterima nan penuh resiko.
            
Dalam bidang sosial, beliau begitu hatam menguasainya. Ia adalah sosok yang memberikan kontribusi nyata dalam balutan realitas sosial yang begitu amat tinggi. Kepekaan sosial yang dimiliki beliau cukup untuk membuat manusia disekitarnya menjadi paham betul akan realitas sosial dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Ia selalu menekankan untuk melihat realitas sosial kehidupan masyarakat langsung dilapangan, tanpa harus mendalami dan menyusun segudang teori permasalahan sosial yang ada, apalagi hanya menduga-duga. Karena sejatinya, dunia ilmu sosial adalah dunia yang begitu kompleks dalam balutan permasalahan keseharian dalam masyarakatnya. Pandangannya dalam dunia ke-IPS-an, setidaknya mampu membuka mata hati para guru IPS dan calon guru IPS akan penerapan pembelajaran IPS disekolah yang inspiratif, edukatif, dan inovatif. Tidak lagi terkungkung pada sistem yang telah mapan, sehingga IPS tidak lagi menjadi sosok pembelajaran disekolah yang membosankan dan memuakkan bagai sampah. Ia ingin, pola pikir dan gaya mengajar setiap insan dalam bidang Sosial diubah dengan mengikuti dinamika kehidupan sosial yang ada saat ini. Karena itu tak perlu kita pertanyakan lagi seberapa banyak penelitian sosial yang lahir dari hasil karya tangannya. Ia begitu ahli dalam bidang ini dan berkontibusi langsung dalam kehidupan mayarakat dengan segudang permasalahan di dalamnya. Tak jarang, kepekaan sosial yang tinggi membuat beliau tumbuh menjadi sosok yang sosialis tapi bukan komunis. Baginya dunia ini hanyalah sementara, selagi masih bisa hidup ia akan terus beramal soleh dan berbagi dengan sesama yang membutuhkannya. Semasa hidupnya beliau banyak mendirikan Yayasan kepedulian terhadap umat manusia, ia pun turut hadir sebagai aktor pemberdayaan di dalamnya, mulai dari gembel jalanan, pengamen, pencopet, jablay, pengutip sayur, pemulung, dan yang lainnya.
           
Tapi kini sang Maestro Pendidikan tersebut tak lagi hidup dunia, beliau telah meninggalkan seluruh aspek kehidupan dibumi, menyelesaikan misi suci, dan memberikan duka bagi yang memaknai seoonggok pembelajaran dari dirinya. Pegiat HAM dan Aktivis tersebut kini tak lagi mampu menunjukkan eksistensinya. Penulis banyak karya fenomenal tersebut juga tak lagi mampu menghasilkan karya-karya produktif dari hasil pemikirannya. Dosen yang memberikan kebermaknaan ilmu itu kini telah pamit undur diri dari kehidupan dunia yang fana nan sementara. Dan masih banyak kisah memilukan lainnya yang menyayat hati bila harus kutuliskan dalam tulisan ini. Kini beliau sudah tidak lagi merasakan sakit yang mendalam, kini Allah telah mencabut dan mengangkat segala kesakitan dan kepiluan yang ada padanya. Kini ia tenang bersama orang baik lainnya dalam Surga, karena aku percaya Surgalah untuknya. Selamat Jalan Bapak Nusa Putra, namamu menghiasi panggung pendidikan dan dunia sosial dalam masa kekinian. Semoga amal ibadah dan karyamu memberikan kemudahan bagimu dalam mewujudkan cita-citamu di alam dunia yang baru. Doaku dan jutaan orang Indonesia menghantarkanmu keperistirahatan terakhirmu. 

Karya Rikky Leander
Mahasiswa bodohmu yang masih membutuhkan bimbingan darimu.

P.IPS B UNJ 2013. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar