INI
HARI IBU, BUKAN HARI BAPAK.
Manusia lahir melalui proses yang sangat panjang. Tahap
demi tahap, waktu demi waktu, serta musim demi musim. Sejatinya, tak ada satu
manusia pun yang lahir dari rahim seorang Bapak. Semua manusia pastilah
terlahir melalui rahim seorang perempuan, sebagaimana yang kita sebut sebagai
Ibu. Ibu ialah sosok penting dalam sebuah keluarga. Balutan cinta, kehangatan,
perhatian, dan kasih sayang ada dalam diri seorang Ibu. Ia mampu memberikan
semuanya itu untuk Anaknya. Ia tak pernah pilih kasih. Semuanya diberikan dan
dilakukan dengan tulus, tabah dan ikhlas. Ibu adalah sumber kebahagiaan yang
tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Karenanya, sosok ibu ditempatkan
sebagai peran pendamping atau partner, bukan sebagai pembantu suami. Walau
dalam kenyataannya Ibuku dan Ibumu tidaklah sama. Pastilah ada karakter
tertentu yang tak bisa kau lupakan dan samakan dengan sosok ibu lainnya.
Kala hari ibu tiba, ada tradisi dan kebiasaan yang tak
biasa. Semua orang sibuk mengucapkan hari Ibu. Semua Medsos ramai memperbincangkan
hari ibu. Mereka berfoto selfie bersama, memberikan setangkai bunga, juga
memberikan surprise yang teramat sangat mengharukan bagi Ibunya. Semuanya itu
mereka lakukan untuk menghargai dan menghormati sosok seorang ibu yang pernah
ada dalam hidup mereka. Hal itu sangatlah lumrah. Seorang anak sejatinya memang
harus berbakti pada ibunya. Karena Ibu bagaikan sesuatu yang teramat spesial,
bagai martabak telor. Rasanya tak dapat dipersepsikan, baik dalam bentuk
pikiran,ucapan, maupun perbuatan. Ia menjadi candu bagai koruptor yang haus
akan jabatan dan kekayaan.
Ini kisah tentang Ibuku. Kesemuanya ini kutulis, sebagai
bentuk pengungkapan rasa hormat dan sayangku padanya. Sejak kecil hingga
dewasa, seluruh Anak-anaknya ia rawat dan kasihi. Begitu banyak cerita dan
pengalaman yang tak terlupakan kala ia berjuang membesarkan anak-anaknya. Ia
seperti malaikat yang dikirim oleh Tuhan menjadi pengasuh dan penolong bagi
kami anak-anaknya. Dahulu segelintir masalah dan cobaan datang mendera pada
keluarga ini. Ayahku lumpuh, sehingga Ia tak dapat bekerja lagi. Rumah hunian
kami hanya beralaskan tikar, bilik dan bambu yang rasanya hampir roboh. Tak ada
satu batupun yang hinggap dalam bentukan rumah ini. Kami sekelurga hidup dalam
pernak-pernik kemiskinan. Kesusahan dan
kemalangan ada pada keluarga ini. Pahit memang bila diingat kembali. Rasanya,
kala itu aku menilai bahwa kami akan mati dalam kesusahan dan kemiskinan. Tak
ada yang dapat dilakukan oleh Ayahku kala itu, ia benar-benar harus istirahat
total dari segala aktivitasnya. Kala Ayahku lumpuh, tak ada pilihan lain bagi
ibuku. Walau dengan keadaan sesusah apapun, Ia tetap setia mendampingi Ayahku
dan memberikan hidup anak-anaknya. Akhirnya, Ibuku lah yang menggantikan peran
dan tanggung jawab sebagai tulang punggung. Meski dahulu Ibuku tak memiliki
keahlian dan kompetensi yang hebat, namun tekad dan kerja kerasnya lah yang
hanya diandalkannya. Ia mau melakukan hal apapun, yang penting anak dan
suaminya bisa hidup. Ia berdagang, menjadi kuli bangunan, membantu orang dipasar,
dan kerja serabutan lainnya. Ia bagaikan Hulk yang hebat dan gagah, yang
melakukan segala sesuatunya tanpa keluh kesah. Tekadnya bagaikan kendaraan yang
haus akan bensin. Kegigihannya tak perlu lagi diragukan. Kadang, kala ia
bekerja sebagai pembantu, tak jarang orang menghina dan melecehkannya. Namun
ibuku tak pernah ambil pusing tentang omongan orang lain. Baginya yang
terpenting ialah ora et labora, (berdoa dan berusaha). Kini Ibuku berganti
peran dengan Ayahku, boleh dikatakan Ialah kepala Rumah Tangga dalam keluarga
ini. Karena telah berpuluh-puluh tahun hidup sebagai tulang punggung keluarga
yang sejati. Tak jarang, pengalaman pahit yang dirasakan oleh Ibuku, ia ambil
dan petik sebagai pembelajaran baginya. Bertahun-tahun ia melakukan hal tersebut,
tahap demi tahap dan luka demi luka pun telah berpindah singgah. Kemalangan
digantikan oleh sukacita, tangisan digantikan oleh tawa kebahagiaan.
Ibuku selalu mengajarkan hal baik pada Anak-anaknya. Ia
tak ingin seluruh anak-anaknya memiliki nasib yang sama seperti nya. Ia selalu
mengajarkan kami, untuk menjadi yang terbaik dalam setiap tantangan. Apapun itu
dan dimanapun. Tak jarang, bila Kami anaknya bersalah, ia tak segan untuk
memukuli kami. Namun, semuanya itu dilakukan agar kami anak-anaknya tahu siapa
dan bagaimana pola kehidupan orang tua kami. Semuanya demi kebaikan kami
kedepannya. Ia tak pernah ragu sedikit pun dalam memberikan suatu keputusan.
Gaya berbicara yang lantang dan tegas, seolah meluluhlantahkan orang-orang
jahat disekitarnya. Apa yang dianggapnya salah, haruslah diberi hukuman. Maka
dari itu, kami lebih cenderung dibesarkan dalam kondisi keluarga yang otoriter.
Tak boleh melawan, dan harus terus selalu patuh, sopan dalam berbicara,
kesemuanya itu ialah dokrin yang selalu diajarkan pada kami. Walau terkadang
hati nurani Ibu beserta Ayahku sesekali muncul dan memberikan kehangatan dalam
canda dan tawa. Ibuku benar-benar merupakan sosok yang tak bisa terlupakan. Dalam
hal pendidikan, Orangtuaku secara tegas mengatakan bahwa sesulit apapun keadaannya,
kami anak-anaknya haruslah tetap bersekolah. Tak boleh ada satupun anaknya yang
putus sekolah. Tak jarang, apabila ada anaknya yang berprestasi di sekolah, Ia
memberikan sebuah hadiah. Karena baginya, hadiah tersebut merupakan imun
pembangkit semangat belajar anaknya.
Ketika kami anak-anaknya mulai tumbuh remaja dan dewasa,
Ia merupakan sosok satpam sejati bagi hidup kami. Kami hidup dalam aturan yang
sistematis, taratur, dan tertata rapih. Tak ada celah sedikitpun bagi kami
anak-anaknya untuk menyimpang. Keadaan semakin menghimpit kehidupan kedua
orangtuaku. Anak-anaknya kini telah dewasa, tapi ia bertekad untuk tetap
menyekolahkan anak-anaknya sampai setinggi-tingginya. Ibuku pernah berucap
kepada kami, “Sampai Kaki jadi Kepala
dan Kepala menjadi Kaki pun, Ibu siap untuk menyekolahkan kalian
setinggi-tingginya, Siapa yang siap untuk Maju, Ibu siap membantu kalian !”. Mungkin
itulah seonggok kalimat yang mungkin masih terngiang di telinga kami, anaknya.
Ia selalu mendorong kami, ia tak pernah membuka tabib kesusahan, apalagi dalam
masalah keuangan untuk sekolah dan kuliah anaknya. Karena baginya, kami harus
bahagia dan memiliki nasib yang lebih baik darinya. Entah mengapa, tradisi
dalam suku Batak memandang bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam hidup
ini. Mungkin wejangan inilah yang dulu dibawa oleh orangtuaku dari kampung.
Karenanya kini ia terapkan pada anak-anaknya. Ibuku sangat tegas dalam hal ini.
Ia tak mau anaknya gagal dan durhaka kelak padanya. Semuanya Ia lakukan melalui
transformasi panjang yang sangat memilukan.
Ibuku juga sangat tegas dan keras pada kami dalam hal
percintaan, Ia tahu bahwa kini kami telah berada pada fase dan tahap manusia
pra-dewasa. Ia tahu dan sesekali memperhatikan tingkah laku kami apabila sedang
jatuh cinta. Bukannya ia tak mau membatasi kami untuk jatuh cinta dan tertarik
pada lawan jenis. Namun ibuku tampaknya memiliki sikap khawatir yang amat
mendalam pada anak-anaknya. Ia tak ingin anak-anaknya jatuh kejalan yang salah
hanya karena wanita lain dalam hidupnya. Terkadang ucapan dan larangannya yang
sangat tegas membuat kami harus tercengang dan menahan kepahitan cinta. Semua
anak lelakinya selalu diberi wejangan dan masukan. Bak seorang tentara yang
akan pergi berperang. Ia selalu mengingatkan pada anak lelakinya, kasihilah
wanita dan jangan pernah menyakiti perasaannya. “Kita sekarang ini hidup dalam
dunia modern, kalau kau tidak memiliki pekerjaan yang mapan dan mencukupi,
jangan coba-coba berpacaran apalagi melamar seorang wanita, lebih baik fokus
pada karier dan masa depanmu”. Pahit memang aturan dan masukan itu bagi kami
anak lelaki dikeluarga ini. Namun, Saya beranggapan bahwa apa yang dikatakan
oleh orangtuaku itu ialah hal yang baik, ia tak ingin anak-anaknya kelak akan
mengalami kesusahan dalam menghidupi anak orang lain. Ibuku tak ingin kelak,
anak lelakinya sama seperti Bapakku yang kini perannya telah tergantikan oleh
Ibuku. Karenanya, ia dengan begitu keras mengingatkan kami pada hal-hal
fundamental tersebut. Selalu berhati-hati dalam memilih kawan, dan jangan
sampai jatuh kedalam pelukan wanita sebelum masa mapan tiba.
Dalam kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari, ibuku
selalu berbagi. Ia ingin menunjukkan kasih dan sukacitanya pada sesama
tetangga, saudara dan orang-orang lain disekitar rumahku. Kala hari besar
keagamaan tiba, Ibuku selalu memberikan kue pada tetanggaku yang beragama
Muslim. Tak hanya itu, apabila ada makanan yang lebih dikeluarga kami, Ia
selalu menyuruhku untuk mengantarkannya ke tetangga. Ia ingin, walau dalam
kesusahan, konsep berbagi tak boleh ditinggalkan. Apapun yang terjadi, rezeki
ialah urusan ilahi. Aku saja yang anaknya merasa heran, mengapa ibuku masih
saja sempat berbagi pada orang lain, padahal ia tau bahwa keluarga ini saja
masih berkekurangan ?. Inilah konsep berbagi yang diajarkan oleh Ibuku kepada
anak-anaknya. Ia memberikan teladan yang begitu kuat pada kami anaknya.
Sehingga tak ayal, kebiasaan-kebiasaan baik dan empati yang dilakukan oleh
Ibuku, tak jarang dibalas oleh tetanggaku yang beragama Muslim. Kala lebaran
Tiba, tetanggaku mengantarkan ketupat, opor ayam, dan makanan-makanan khas
lebaran lainnya. Semuanya itu dilakukan tanpa pamrih dan mengharapkan imbalan
apapun. Karenanya, kehidupan sosial di lingkungan kami jauh dari kata
intoleran, semua hidup rukun dan keberagaman dijunjung tinggi dalam masyarakat
yang multikultural.
Kini, berkat tekad dan kerja kerasnya dimasa lalu. Ibuku
dan Ayahku telah berhasil menyekolahkan kami anak-anaknya hingga Perguruan
Tinggi. Hampir seluruh anak-anaknya kini telah menjadi Seorang Sarjana,
sebagian ada yang telah bekerja dan merajut karier yang matang. Hanya Akulah
yang belum menyandang gelar sarjana tersebut. Mungkin Tuhan ingin memberitahu
pada umatnya melalui sosok seorang Ibu, bahwa usaha dan doa yang giat akan
membuahkan hasil yang terbaik. Karena proses tak akan menghianati hasil.
Karenanya : “HARI IBU
YANG SEJATI IALAH MOMENT KEBERMANFAATAN KITA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI, AJARAN,
SERTA MENGANGKAT MARTABAT SEORANG IBU MENJADI WANITA YANG MULIA SEUTUHNYA,
BUKAN HANYA MELALUI UCAPAN DAN EUFORIA SESAAT SAJA”.
TERHARUUUUU :""""D SALUT BANGET SALUT! SALUT SAMA MAMANYA LEANDER. SMG TANTE SELALU DIBERKAHI OLEH TUHAN. AAMIIN.
BalasHapusUtk tulisannya..... Nder. gue percaya bgt dah sekarang lu bisa dpt buku setiap hari dari Pak Dosen MK, karena lu ternyata nulis se-worth it ini. Sumpadaaa. tulisan lu sebelas dua belas sama Pak dosen! dan gue bersyukur bgt pernah bantuin lo bikin blogspot wkwkwkwk. Smg terus bermanfaat dan makin intensif nulisnya yaaa nder. Semangaaaat nulisnya! terus ditingkatkan lagi! ayeyeyey capt! bagi tipsnya laaah hahahaha
-Suci Ramadhaniyati (4915133404) P. IPS B 2013
((berasa komen di tulisannya Pak... .. )) wkwkwkwk