Rabu, 23 Desember 2015

INI HARI IBU, BUKAN HARI BAPAK.

            Manusia lahir melalui proses yang sangat panjang. Tahap demi tahap, waktu demi waktu, serta musim demi musim. Sejatinya, tak ada satu manusia pun yang lahir dari rahim seorang Bapak. Semua manusia pastilah terlahir melalui rahim seorang perempuan, sebagaimana yang kita sebut sebagai Ibu. Ibu ialah sosok penting dalam sebuah keluarga. Balutan cinta, kehangatan, perhatian, dan kasih sayang ada dalam diri seorang Ibu. Ia mampu memberikan semuanya itu untuk Anaknya. Ia tak pernah pilih kasih. Semuanya diberikan dan dilakukan dengan tulus, tabah dan ikhlas. Ibu adalah sumber kebahagiaan yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Karenanya, sosok ibu ditempatkan sebagai peran pendamping atau partner, bukan sebagai pembantu suami. Walau dalam kenyataannya Ibuku dan Ibumu tidaklah sama. Pastilah ada karakter tertentu yang tak bisa kau lupakan dan samakan dengan sosok ibu lainnya.
            Kala hari ibu tiba, ada tradisi dan kebiasaan yang tak biasa. Semua orang sibuk mengucapkan hari Ibu. Semua Medsos ramai memperbincangkan hari ibu. Mereka berfoto selfie bersama, memberikan setangkai bunga, juga memberikan surprise yang teramat sangat mengharukan bagi Ibunya. Semuanya itu mereka lakukan untuk menghargai dan menghormati sosok seorang ibu yang pernah ada dalam hidup mereka. Hal itu sangatlah lumrah. Seorang anak sejatinya memang harus berbakti pada ibunya. Karena Ibu bagaikan sesuatu yang teramat spesial, bagai martabak telor. Rasanya tak dapat dipersepsikan, baik dalam bentuk pikiran,ucapan, maupun perbuatan. Ia menjadi candu bagai koruptor yang haus akan jabatan dan kekayaan.
            Ini kisah tentang Ibuku. Kesemuanya ini kutulis, sebagai bentuk pengungkapan rasa hormat dan sayangku padanya. Sejak kecil hingga dewasa, seluruh Anak-anaknya ia rawat dan kasihi. Begitu banyak cerita dan pengalaman yang tak terlupakan kala ia berjuang membesarkan anak-anaknya. Ia seperti malaikat yang dikirim oleh Tuhan menjadi pengasuh dan penolong bagi kami anak-anaknya. Dahulu segelintir masalah dan cobaan datang mendera pada keluarga ini. Ayahku lumpuh, sehingga Ia tak dapat bekerja lagi. Rumah hunian kami hanya beralaskan tikar, bilik dan bambu yang rasanya hampir roboh. Tak ada satu batupun yang hinggap dalam bentukan rumah ini. Kami sekelurga hidup dalam pernak-pernik kemiskinan.  Kesusahan dan kemalangan ada pada keluarga ini. Pahit memang bila diingat kembali. Rasanya, kala itu aku menilai bahwa kami akan mati dalam kesusahan dan kemiskinan. Tak ada yang dapat dilakukan oleh Ayahku kala itu, ia benar-benar harus istirahat total dari segala aktivitasnya. Kala Ayahku lumpuh, tak ada pilihan lain bagi ibuku. Walau dengan keadaan sesusah apapun, Ia tetap setia mendampingi Ayahku dan memberikan hidup anak-anaknya. Akhirnya, Ibuku lah yang menggantikan peran dan tanggung jawab sebagai tulang punggung. Meski dahulu Ibuku tak memiliki keahlian dan kompetensi yang hebat, namun tekad dan kerja kerasnya lah yang hanya diandalkannya. Ia mau melakukan hal apapun, yang penting anak dan suaminya bisa hidup. Ia berdagang, menjadi kuli bangunan, membantu orang dipasar, dan kerja serabutan lainnya. Ia bagaikan Hulk yang hebat dan gagah, yang melakukan segala sesuatunya tanpa keluh kesah. Tekadnya bagaikan kendaraan yang haus akan bensin. Kegigihannya tak perlu lagi diragukan. Kadang, kala ia bekerja sebagai pembantu, tak jarang orang menghina dan melecehkannya. Namun ibuku tak pernah ambil pusing tentang omongan orang lain. Baginya yang terpenting ialah ora et labora, (berdoa dan berusaha). Kini Ibuku berganti peran dengan Ayahku, boleh dikatakan Ialah kepala Rumah Tangga dalam keluarga ini. Karena telah berpuluh-puluh tahun hidup sebagai tulang punggung keluarga yang sejati. Tak jarang, pengalaman pahit yang dirasakan oleh Ibuku, ia ambil dan petik sebagai pembelajaran baginya. Bertahun-tahun ia melakukan hal tersebut, tahap demi tahap dan luka demi luka pun telah berpindah singgah. Kemalangan digantikan oleh sukacita, tangisan digantikan oleh tawa kebahagiaan.
            Ibuku selalu mengajarkan hal baik pada Anak-anaknya. Ia tak ingin seluruh anak-anaknya memiliki nasib yang sama seperti nya. Ia selalu mengajarkan kami, untuk menjadi yang terbaik dalam setiap tantangan. Apapun itu dan dimanapun. Tak jarang, bila Kami anaknya bersalah, ia tak segan untuk memukuli kami. Namun, semuanya itu dilakukan agar kami anak-anaknya tahu siapa dan bagaimana pola kehidupan orang tua kami. Semuanya demi kebaikan kami kedepannya. Ia tak pernah ragu sedikit pun dalam memberikan suatu keputusan. Gaya berbicara yang lantang dan tegas, seolah meluluhlantahkan orang-orang jahat disekitarnya. Apa yang dianggapnya salah, haruslah diberi hukuman. Maka dari itu, kami lebih cenderung dibesarkan dalam kondisi keluarga yang otoriter. Tak boleh melawan, dan harus terus selalu patuh, sopan dalam berbicara, kesemuanya itu ialah dokrin yang selalu diajarkan pada kami. Walau terkadang hati nurani Ibu beserta Ayahku sesekali muncul dan memberikan kehangatan dalam canda dan tawa. Ibuku benar-benar merupakan sosok yang tak bisa terlupakan. Dalam hal pendidikan, Orangtuaku secara tegas mengatakan bahwa sesulit apapun keadaannya, kami anak-anaknya haruslah tetap bersekolah. Tak boleh ada satupun anaknya yang putus sekolah. Tak jarang, apabila ada anaknya yang berprestasi di sekolah, Ia memberikan sebuah hadiah. Karena baginya, hadiah tersebut merupakan imun pembangkit semangat belajar anaknya.
            Ketika kami anak-anaknya mulai tumbuh remaja dan dewasa, Ia merupakan sosok satpam sejati bagi hidup kami. Kami hidup dalam aturan yang sistematis, taratur, dan tertata rapih. Tak ada celah sedikitpun bagi kami anak-anaknya untuk menyimpang. Keadaan semakin menghimpit kehidupan kedua orangtuaku. Anak-anaknya kini telah dewasa, tapi ia bertekad untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya sampai setinggi-tingginya. Ibuku pernah berucap kepada kami, “Sampai Kaki jadi Kepala dan Kepala menjadi Kaki pun, Ibu siap untuk menyekolahkan kalian setinggi-tingginya, Siapa yang siap untuk Maju, Ibu siap membantu kalian !”. Mungkin itulah seonggok kalimat yang mungkin masih terngiang di telinga kami, anaknya. Ia selalu mendorong kami, ia tak pernah membuka tabib kesusahan, apalagi dalam masalah keuangan untuk sekolah dan kuliah anaknya. Karena baginya, kami harus bahagia dan memiliki nasib yang lebih baik darinya. Entah mengapa, tradisi dalam suku Batak memandang bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam hidup ini. Mungkin wejangan inilah yang dulu dibawa oleh orangtuaku dari kampung. Karenanya kini ia terapkan pada anak-anaknya. Ibuku sangat tegas dalam hal ini. Ia tak mau anaknya gagal dan durhaka kelak padanya. Semuanya Ia lakukan melalui transformasi panjang yang sangat memilukan.
            Ibuku juga sangat tegas dan keras pada kami dalam hal percintaan, Ia tahu bahwa kini kami telah berada pada fase dan tahap manusia pra-dewasa. Ia tahu dan sesekali memperhatikan tingkah laku kami apabila sedang jatuh cinta. Bukannya ia tak mau membatasi kami untuk jatuh cinta dan tertarik pada lawan jenis. Namun ibuku tampaknya memiliki sikap khawatir yang amat mendalam pada anak-anaknya. Ia tak ingin anak-anaknya jatuh kejalan yang salah hanya karena wanita lain dalam hidupnya. Terkadang ucapan dan larangannya yang sangat tegas membuat kami harus tercengang dan menahan kepahitan cinta. Semua anak lelakinya selalu diberi wejangan dan masukan. Bak seorang tentara yang akan pergi berperang. Ia selalu mengingatkan pada anak lelakinya, kasihilah wanita dan jangan pernah menyakiti perasaannya. “Kita sekarang ini hidup dalam dunia modern, kalau kau tidak memiliki pekerjaan yang mapan dan mencukupi, jangan coba-coba berpacaran apalagi melamar seorang wanita, lebih baik fokus pada karier dan masa depanmu”. Pahit memang aturan dan masukan itu bagi kami anak lelaki dikeluarga ini. Namun, Saya beranggapan bahwa apa yang dikatakan oleh orangtuaku itu ialah hal yang baik, ia tak ingin anak-anaknya kelak akan mengalami kesusahan dalam menghidupi anak orang lain. Ibuku tak ingin kelak, anak lelakinya sama seperti Bapakku yang kini perannya telah tergantikan oleh Ibuku. Karenanya, ia dengan begitu keras mengingatkan kami pada hal-hal fundamental tersebut. Selalu berhati-hati dalam memilih kawan, dan jangan sampai jatuh kedalam pelukan wanita sebelum masa mapan tiba.
            Dalam kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari, ibuku selalu berbagi. Ia ingin menunjukkan kasih dan sukacitanya pada sesama tetangga, saudara dan orang-orang lain disekitar rumahku. Kala hari besar keagamaan tiba, Ibuku selalu memberikan kue pada tetanggaku yang beragama Muslim. Tak hanya itu, apabila ada makanan yang lebih dikeluarga kami, Ia selalu menyuruhku untuk mengantarkannya ke tetangga. Ia ingin, walau dalam kesusahan, konsep berbagi tak boleh ditinggalkan. Apapun yang terjadi, rezeki ialah urusan ilahi. Aku saja yang anaknya merasa heran, mengapa ibuku masih saja sempat berbagi pada orang lain, padahal ia tau bahwa keluarga ini saja masih berkekurangan ?. Inilah konsep berbagi yang diajarkan oleh Ibuku kepada anak-anaknya. Ia memberikan teladan yang begitu kuat pada kami anaknya. Sehingga tak ayal, kebiasaan-kebiasaan baik dan empati yang dilakukan oleh Ibuku, tak jarang dibalas oleh tetanggaku yang beragama Muslim. Kala lebaran Tiba, tetanggaku mengantarkan ketupat, opor ayam, dan makanan-makanan khas lebaran lainnya. Semuanya itu dilakukan tanpa pamrih dan mengharapkan imbalan apapun. Karenanya, kehidupan sosial di lingkungan kami jauh dari kata intoleran, semua hidup rukun dan keberagaman dijunjung tinggi dalam masyarakat yang multikultural.
            Kini, berkat tekad dan kerja kerasnya dimasa lalu. Ibuku dan Ayahku telah berhasil menyekolahkan kami anak-anaknya hingga Perguruan Tinggi. Hampir seluruh anak-anaknya kini telah menjadi Seorang Sarjana, sebagian ada yang telah bekerja dan merajut karier yang matang. Hanya Akulah yang belum menyandang gelar sarjana tersebut. Mungkin Tuhan ingin memberitahu pada umatnya melalui sosok seorang Ibu, bahwa usaha dan doa yang giat akan membuahkan hasil yang terbaik. Karena proses tak akan menghianati hasil.  


Karenanya : “HARI IBU YANG SEJATI IALAH MOMENT KEBERMANFAATAN KITA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI, AJARAN, SERTA MENGANGKAT MARTABAT SEORANG IBU MENJADI WANITA YANG MULIA SEUTUHNYA, BUKAN HANYA MELALUI UCAPAN DAN EUFORIA SESAAT SAJA”.  

1 komentar:

  1. TERHARUUUUU :""""D SALUT BANGET SALUT! SALUT SAMA MAMANYA LEANDER. SMG TANTE SELALU DIBERKAHI OLEH TUHAN. AAMIIN.

    Utk tulisannya..... Nder. gue percaya bgt dah sekarang lu bisa dpt buku setiap hari dari Pak Dosen MK, karena lu ternyata nulis se-worth it ini. Sumpadaaa. tulisan lu sebelas dua belas sama Pak dosen! dan gue bersyukur bgt pernah bantuin lo bikin blogspot wkwkwkwk. Smg terus bermanfaat dan makin intensif nulisnya yaaa nder. Semangaaaat nulisnya! terus ditingkatkan lagi! ayeyeyey capt! bagi tipsnya laaah hahahaha

    -Suci Ramadhaniyati (4915133404) P. IPS B 2013

    ((berasa komen di tulisannya Pak... .. )) wkwkwkwk

    BalasHapus