NATAL, YESUS, DAN GUSDUR.
Natal adalah moment peringatan akan kelahiran Yesus
Kristus. Sekitar 2000 tahun yang lalu peristiwa
ini mencengangkan bagi seluruh umat di dunia. Natal tak terlepas daripada kasih
kemurahan Allah. Sejatinya, manusia tak sanggup memikirkan dengan akalnya yang
hanya seoongok daging itu. Natal ialah suatu kasih sukacita Allah yang
diwujudnyatakan melalui tokoh Yesus. Hakikinya, Allah menunjukkan kuasanya yang
begitu hebat dan tak terselami oleh otak dan rasio manusia. Kelahiran Yesus,
tak terlepas dari adanya keprihatinan Allah dan empati pada manusia. Natal,
sejatinya merupakan suatu ungkapan yang ingin dinyatakan Allah pada manusia
secara konkret dan nyata. Iman pengharapan akan seorang Juru’slamat yang
dinantikan oleh banyak orang kini telah nyata. Sejatinya Allah itu ialah Roh,
tidak berwujud dan tidak berupa. Namun ketidakpercayaan manusia terhadap
penciptanya sendiri kini telah Ia buktikan. Bagi orang yang tidak mempercayai
peristiwa ini, natal ialah suatu peristiwa yang diharamkan. Mereka tak mau
mengakui bahwa Allah telah turut hadir dalam kepiluan hidup mereka. Namun bagi
orang percaya, peristiwa kelahiran Yesus ialah suatu kasih sukacita, yang telah
dinyatakan Allah secara konkret dalam wujud cinta kasihnya akan Manusia.
Allah sendiri ingin ikut turut menyaksikan dan merasakan
penderitaan manusia, Ia ingin ciptaannya tak durhaka dan berpaling tamak darinya.
Kebingungan manusia selama ini akan jalan pendamai dan penyelamat telah Ia
nyatakan. Lihat dan saksikanlah, betapa mengerikannya peristiwa kelahiran
Al-Masih tersebut. Allah menyatakan kemuliaannya dengan mengutus Malaikat
Gabriel (Jibril dalam Islam) kepada Ibu Yesus yang bernama Maria (Maryam).
Kelahirannya tanpa sedikitpun persetubuhan bersama dengan Suaminya, Yusuf. Tak
hanya itu, Allah juga menyatakan kemuliaannya kepada para gembala di padang
gurun. Malaikat menyampaikan bahwa pada hari itu, telah nyata kemuliaan Allah
dalam seorang bayi yang telah lahir dalam sebuah kandang domba yang hina, di
Betlehem. Sebagai manusia biasa, bagaimana mungkin hal itu akan terjadi ?
adakah manusia yang lahir tanpa bersetubuh antara laki-laki dengan perempuan ?
sejatinya, kuasa Allah yang ada tak mampu diselami oleh akal rasional manusia.
Kelahiran Yesus pada kala itu, hanyalah bagian kecil dari
pada kasih kemurahan Allah dalam dunia yang semakin gelap ini. Seolah-olah
dunia menutup mata terhadap sesuatu yang dipandang tak rasio. Dari peritiwa
ini, yang perlu kita pertanyakan adalah mengapa Yesus lahir dalam sebuah
kandang domba ? Kelahiran Yesus
menunjukkan bahwa sejatinya seorang Juruslamat diutus bukan untuk dilayani,
tetapi untuk melayani. Kelahirannya dikandang domba inilah yang ingin
ditunjukkan pada manusia, bahwa konsep kesederhanaan tak hanya dimiliki oleh
seonggok daging manusia, tapi Allah juga memiliki sikap kesederhanaan itu.
Karena itu, seiring bertambah dan berkembangnya peradaban manusia, makna Natal
kini telah berubah. Miris bila kita melihat dan menyelaminya. Dalam dunia
modern, natal dimodifikasi dan didesain sesuai dengan kebutuhan manusia.
Kebenaran yang ada mengikuti tradisi dan peradaban umat manusia, dan bukan
malah sebaliknya. Lihatlah betapa malangnya nasib umat manusia yang tak melihat
makna dan keutuhan konteks dari pada sebuah Natal. Makna Natal telah dicemari,
didesain, dikontruksikan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Mereka
dengan begitu hebatnya mendesain natal dengan banyaknya atribut yang
membingungkan dan sangat asing bagi kehidupan kita, seperti pohon natal, kue
natal, santa clause, salju, musim dingin, kado natal, anggur dan minuman keras
serta atribut-atribut lainnya. Padahal sejatinya, bukan itu makna dan keutuhan konteks
yang ingin diperlihatkan Allah dalam peristiwa kelahiran Yesus 2000 tahun yang
lalu. Peringatan kelahiran Yesus yang sering disebutkan oleh orang banyak
sebagai Natal, sejatinya memiliki esensi dan eksistensi yang lebih daripada
yang telah dipaparkan diatas. Allah ingin menunujukkan bahwa makna Natal ialah
berbagi kasih, adanya kesederhanaan hati, bersyukur, dan senantiasa menyatakan
di hadapan Allah bahwa terang itu telah hadir dalam diri dan keterbatasan
mereka masing-masing.
Peristiwa
Natal tak dapat dipisahkan dari konsep kebaikan Allah akan harapan manusia. Manusia
yang telah memiliki iman pengharapan keselamatan bertahun-tahun lamanya kini
telah konkret. Yesus telah hadir dalam dunia yang gelap, dan menjadi terang
dalam kegelapan itu sendiri. Ia bagaikan api yang tak pernah mati kala disiram
air. Kelahirannya yang begitu mencengangkan dunia memberikan makna tersendiri
bagi yang percaya kepadaNya. Sungguh ini diluar kuasa otak manusia. Pun
sejatinya juga terjadi pada peristiwa Isra Miraj yang penuh ketidakmengertian
manusia terhadap kuasa Allah. Sehingga bila umat manusia percaya akan hal ini,
maka manusia akan menerima balutan damai, kasih sukacita, dan pengharapan yang
teguh dalam kesesakan. Sejatinya, konsep kesederhanaan dan sukacita yang ditunjukkan
Allah mengingatkan kita umat manusia agar tidak menyombongkan diri dan saling
mengasihi.
Untuk itu, makna natal haruslah dipandang sebagai bentuk
kuasa penyelamatan Allah melalui diri Yesus untuk menghindari kesombongan dan
sikap tak peduli satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang mungkin sekiranya
ada dalam diri Gusdur. Mungkin, Gusdur adalah satu dari antara banyaknya umat
manusia yang menutup mata akan peristiwa ini. Kesederhanaan Gusdur dalam
hidupnya menunujukkan, bahwa ia telah mengaplikasikan konsep natal dalam dunia
yang begitu gelap. Ucapan dan tutur katanya seolah meluluhlantahkan kefanatikan
manusia-manusia yang hatinya dikuasai oleh Iblis. Walau semua masyarakat
Indonesia tahu bahwa Gusdur beragama Muslim, tapi dengan lantang Ia mengatakan
bahwa “Yesus bukanlah Juruslamat umat Kristen saja, tapi Yesus adalah
Juru'slamat bagi umat Dunia”. Kata dunia disini, dapat dimaknai sebagai ujud
keuniversalan terhadap seluruh manusia tanpa melihat perbedaan. Baik dalam
perbedaan kulit, suku, agama dan status golongan. Ini menyatakan bahwa
kelahiran Yesus Kristus, bukan saja dimaknai sebagai pesta besar bagi umat
Kristiani. Gusdur ingin mengatakan bahwa ketidakberdayaan manusia sejatinya
haruslah ditangani oleh kasih kemurahan yang daripada Allah sendiri. Terkadang,
ketidakberdayaan manusia itu bisa dalam bentuk sering mengabaikan unsur
kerukunan, kedamaian, dan persatuan. Manusia ingin menang sendiri, egois,
serakah, tak punya kepekaan sosial, sulit menerima kenyataaan yang diluar akal
pikirannya, dan menutup mata akan realita kemiskinan sesamanya. Padahal Gusdur
ingin mengatakan bahwa Natal adalah kebaikan yang diberikan TUHAN untuk Dunia
ini. Karena itu, sering kali dalam kehidupan yang fana ini kita masih sering
sulit untuk berbagi, menolong orang lain, rendah hati, sombong, pendendam. Maka
dari itu, NATAL ingin membuktikan bahwa
"MAKNA
NATAL TAK HANYA SEKEDAR ATRIBUTNYA, MELAINKAN PENUNJUKKAN APLIKASI
KESEDERHANAAN DAN KASIH KEPADA SESAMA UMAT MANUSIA".
Mantappu jiwaaa
BalasHapus