Kamis, 07 Juli 2016

SELAMAT JALAN MAESTRO PENDIDIKAN 

NAN KONTROVERSIAL.

Rawamangun kembali berkabung. Bukan karena kasus Drop Out yang menimpa mahasiswanya, tapi kini Rawamangun tengah diselimuti oleh duka yang mendalam. UNJ kini harus rela kehilangan agen intelektual terbesarnya. Dr. Nusa Putra, S.Fill., M.Pd kini telah dipanggil oleh Yang Maha Ada dan Yang Maha Kuasa. Sungguh duka yang mendalam dan memilukan. Inilah kematian, tragis tanpa bisa diuraijelaskan oleh akal yang logis. Semua telah terstruktur dan terjadi begitu saja. Kematian itu pasti terjadi, tak ada satu manusia pun yang dapat mencegah atau memanipulasinya. Ia datang bagaikan guntur bumi yang menyerang fajar pagi hari, meluluhlantakkan siapapun tanpa terkecuali. Kematian juga tak memandang derajat dan kasta yang berlaku. Kematian bisa datang pada siapa saja dan kapan saja. Kini, kematian itu datang dan menyapa Sang Maha Guru dan Maestro Pendidikan yang dimiliki oleh Universitas Negeri Jakarta.

Tulisan ini kubuat sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormatku terhadapnya. Berita kematian tentangnya hampir membuat seluruh umat manusia yang mengenalnya tak percaya. Karena sejatinya, Ia adalah orang yang selalu tampil enerjik, kuat, berani menentang kematian, dan gigih. Bila difikirkan, mana mungkin secepat itu akan pergi meninggalkan kita. Semasa hidupnya, ada banyak fenomena dan kontroversi yang terjadi. Ia adalah salah satu dari sekian juta umat manusia yang begitu fenomenal dan kontroversial. Terkadang, orang-orang disekitarnya tak mampu menangkap makna tersirat dihelai matanya tersebut. Padahal ia hanya ingin menyampaikan dalih kebenaran dan pemahaman empatis dalam konteks yang majemuk.
            
Begitu banyak pengalaman dan cerita yang mungkin tak dapat kuuraijelaskan satu persatu. Bagiku, beliau adalah orang baik. Aku percaya itu, karena kedekatan dan pendekatan yang terjadi selama ini. Bapak Nusa Putra adalah seonggok daging yang memiliki sifat bijaksana, kontroversi, penentang kejahatan dan kematian, serta penulis lihai dengan pola bahasa yang cukup mudah dimengerti. Pola pikirnya yang nakal dalam mengolah suatu informasi, tak jarang menghadirkan gelitik tawa dan canda dalam kekeluargaan. Ada banyak ilmu yang Ia amalkan, tak terhitung berapa banyak anak didik yang kagum pada gaya mengajarnya. Kala menjadi Dosen, beliau selalu disiplin. Ia sadar dan tahu betul, bahwa ia sosok yang ditiru dan digugu oleh Mahasiswanya. Beliau begitu inspiratif, dengan gayanya yang khas dalam semangat pencerdasan, beliau mampu menyusun dan mempersepsikan posisinya mengajar dengan tingkat kecerdasan setiap anak didiknya yang berbeda. Ia selalu memberikan kesempatan pada setiap anak didiknya untuk maju dan bertumbuhkembang. Ia tak pernah menilai dan memberikan suatu judtifikasi benar ataupun salah. Yang terpenting baginya ialah “prosesnya” bukan “hasil yang instan”. Karena itu, inilah alasan yang selama ini membuat beliau mengajar dan sekaligus menentang pola pendidikan konservatif di Indonesia dalam konteks pendidikan dunia modern. Ia begitu sangat amat kontroversial, karena bagiku ia berani tampil berbeda dibandingkan dengan Dosen lainnya. Bukan berarti karena Ia paling hebat, tapi ia adalah Maetro Pendidikan yang ditumbuhkembangkan dalam balutan kepercayaan diri yang tinggi, dan dibekali dengan ketegasan, keseriusan serta niatan tulus. Baginya yang terpenting dalam sebuah pembelajaran adalah bagaimana ia mampu memberikan kebermaknaan yang mendalam pada anak didiknya.   

Dalam prinsip kehidupan lainnya seperti Agama, Politik, Budaya, Sastra, dan SOSIAL adalah taji dalam hidupnya. Ia mampu berdikari diatas kakinya sendiri demi mempertahankan prinsip keadilan dan kebenaran sejati. Ia begitu konsisten, tak ragu, dan tak mudah diombang-ambingkan oleh situasi apapun. Dalam hal Agama misalnya, tak usah diragukan lagi. Beliau adalah sosok yang taat akan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tak jarang beliau sesekali menentang aliran sesat dalam Islam. Ia sendiri mengakuinya, bahwa Ia bukanlah manusia yang berhati mulia nan suci. Ia selalu katakan itu berulang kali pada setiap mahasiswanya. Beliau banyak membagikan cerita dan ilmu yang mendalam dalam buku yang telah dicetaknya. Ia miris melihat kemunduran dan perpecahan umat muslim ditengah kemajuan peradaban dunia. Tak jarang, itulah yang membuat beliau jauh lebih menghargai dan meneladani sosok “Iblis”  tinimbang manusia yang bertopeng religius namun hatinya penuh dengan kepalsuan dan kebusukan. Karena itu ia begitu banyak menceritakannya dalam buku yang berjudul “Keteladanan Iblis” . Disisi lain, beliau pun banyak mendalami dan mempelajari ilmu agama lainnya. Ia begitu paham tentang Kristen, Konghucu, Hindu-Buddha dan sebagian agama lainnya secara akurat dan benar. Tak jarang, aku begitu kagum padanya. Cara pandangnya mendalami kebenaran yang datang dari setiap agama mampu diuniversalisasikan olehnya. Karena bagiku, hanya ia yang mampu mengerti konsep keimanan akan Tuhan yang sejati. Tanpa sedikitpun berstigma buruk kepada agama lainnya. Karena baginya, orang yang beragama bukanlah orang yang hafal begitu banyak ayat dalam kitab suci, tapi baginya orang yang beragama ialah orang yang mengimplementasikannya dalam bentuk perbuatan nyata, kepedulian terhadap sesama dan mau berbagi. Karena itulah, beliau begitu mengagumi sosok Nabi Muhammad SAW, Isa A.S, Umar bin Khatab, Mahatmagandi, Paulus, Sidharta Gautama dan lain sebagainya. Beliau begitu Indonesianis. Baginya perbedaan ialah hal yang sejatinya wajar. Berbeda bukan berarti bertengkar. Berbeda adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan menuju sebuah persamaan. Inilah pesan universal yang iya sampaikan seketika waktu padaku dalam hal keimanan akan Tuhan yang sejati. “Apapun agama kalian, ketika Kita yakin terhadap sesuatu yang kita yakini maka jalankan, ketika kita tak lagi percaya maka tinggalkan, kebenaran sejati tak perlu diperdebatkan”.  Karena iman lahir bukan dari akal rasional nan logis, tapi lahir dari keyakinan akan kebatinan dan kebathilan. Semasa hidupnya, beliau percaya bahwa agama apapun yang ada di dunia ini, tak ada yang mengajarkan kejahatan dan penindasan. Namun niat jahat dan kepentingan busuklah yang merusak citra terhadap keyakinan suatu agama tersebut. Sungguh, diluar naluriku untuk menganalisa secara mendalam tentang apa yang ditangkap dan diajarkannya kembali kepada kami.
            
Begitu juga dalam hal budaya dan politik, beliau sosok yang begitu menghargai perbedaan budaya dalam balutan kultur yang beragam. Beliau begitu sopan dan santun, gaya tutur kata, pengolahan serta pemilahan kata dengan bijak mampu memberikan citra baik bagi setiap manusia di lingkungan sekitarnya berada. Ia sosok sejati yang begitu mudah beradaptasi dalam beragam budaya. Baik budaya dan tradisi purbakala di zaman dahulu, hingga budaya dan tradisi kekinian nan modern. Sampai ajal menjemputnya, ia merupakan sosok yang tak pernah sedikitpun mau untuk diajak berpolitik busuk oleh para koruptor, negosiator, dan rektor yang provokator. Siapapun biang kejahatan, dia bersedia menjadi orang pertama yang siap menentang dan menumpasnya. Walaupun terkadang seseorang menangkap makna tersebut dalam konteks keburukan yang datang pada dirinya. Ia pernah dimusuhi, dijauhi, dan bahkan berkali-kali dimutasi mengajar ke fakutltas lainnya. Oknum-oknum nakal rezim otoritarianisme belum puas mengahabisi dan memusuhinya sampai kala ajal menjemputnya. Sungguh kesabaran dan ketahanujian yang harus diterima nan penuh resiko.
            
Dalam bidang sosial, beliau begitu hatam menguasainya. Ia adalah sosok yang memberikan kontribusi nyata dalam balutan realitas sosial yang begitu amat tinggi. Kepekaan sosial yang dimiliki beliau cukup untuk membuat manusia disekitarnya menjadi paham betul akan realitas sosial dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Ia selalu menekankan untuk melihat realitas sosial kehidupan masyarakat langsung dilapangan, tanpa harus mendalami dan menyusun segudang teori permasalahan sosial yang ada, apalagi hanya menduga-duga. Karena sejatinya, dunia ilmu sosial adalah dunia yang begitu kompleks dalam balutan permasalahan keseharian dalam masyarakatnya. Pandangannya dalam dunia ke-IPS-an, setidaknya mampu membuka mata hati para guru IPS dan calon guru IPS akan penerapan pembelajaran IPS disekolah yang inspiratif, edukatif, dan inovatif. Tidak lagi terkungkung pada sistem yang telah mapan, sehingga IPS tidak lagi menjadi sosok pembelajaran disekolah yang membosankan dan memuakkan bagai sampah. Ia ingin, pola pikir dan gaya mengajar setiap insan dalam bidang Sosial diubah dengan mengikuti dinamika kehidupan sosial yang ada saat ini. Karena itu tak perlu kita pertanyakan lagi seberapa banyak penelitian sosial yang lahir dari hasil karya tangannya. Ia begitu ahli dalam bidang ini dan berkontibusi langsung dalam kehidupan mayarakat dengan segudang permasalahan di dalamnya. Tak jarang, kepekaan sosial yang tinggi membuat beliau tumbuh menjadi sosok yang sosialis tapi bukan komunis. Baginya dunia ini hanyalah sementara, selagi masih bisa hidup ia akan terus beramal soleh dan berbagi dengan sesama yang membutuhkannya. Semasa hidupnya beliau banyak mendirikan Yayasan kepedulian terhadap umat manusia, ia pun turut hadir sebagai aktor pemberdayaan di dalamnya, mulai dari gembel jalanan, pengamen, pencopet, jablay, pengutip sayur, pemulung, dan yang lainnya.
           
Tapi kini sang Maestro Pendidikan tersebut tak lagi hidup dunia, beliau telah meninggalkan seluruh aspek kehidupan dibumi, menyelesaikan misi suci, dan memberikan duka bagi yang memaknai seoonggok pembelajaran dari dirinya. Pegiat HAM dan Aktivis tersebut kini tak lagi mampu menunjukkan eksistensinya. Penulis banyak karya fenomenal tersebut juga tak lagi mampu menghasilkan karya-karya produktif dari hasil pemikirannya. Dosen yang memberikan kebermaknaan ilmu itu kini telah pamit undur diri dari kehidupan dunia yang fana nan sementara. Dan masih banyak kisah memilukan lainnya yang menyayat hati bila harus kutuliskan dalam tulisan ini. Kini beliau sudah tidak lagi merasakan sakit yang mendalam, kini Allah telah mencabut dan mengangkat segala kesakitan dan kepiluan yang ada padanya. Kini ia tenang bersama orang baik lainnya dalam Surga, karena aku percaya Surgalah untuknya. Selamat Jalan Bapak Nusa Putra, namamu menghiasi panggung pendidikan dan dunia sosial dalam masa kekinian. Semoga amal ibadah dan karyamu memberikan kemudahan bagimu dalam mewujudkan cita-citamu di alam dunia yang baru. Doaku dan jutaan orang Indonesia menghantarkanmu keperistirahatan terakhirmu. 

Karya Rikky Leander
Mahasiswa bodohmu yang masih membutuhkan bimbingan darimu.

P.IPS B UNJ 2013. 

Jumat, 01 Januari 2016

POTRET INDONESIA SEPANJANG TAHUN 2015

           Inilah segudang cerita tentang negeri ini. Negeri yang katanya kaya, makmur, dan jaya tidaklah seperti itu. Berbagai kisah cerita dibalik layar tersembunyi telah terjadi. Baik suka maupun duka. Semuanya telah nampak terbelalak. Tak ada yang mengerti mengapa sekelumit peristiwa itu dapat terjadi. Tak ada juga yang dapat melakukan ramalan secara tepat kapan dan dimana peristiwa itu muncul. Tapi inilah faktanya. Fakta yang memberikan pembelajaran dan penyesalan bagi manusia di dalamnya. Kesemuanya sulit untuk dimengerti. Waktu yang tak bisa berjalan mundur, menjadi saksi dari rekam jejak perjalanan panjang sekelumit peristiwa dan masalah pada negeri ini. Bila ditelisik lebih mendalam selama kurang lebih setahun ini, tampaknya bencana lebih banyak menyapa negeri ini tinimbang unsur kebahagiannya. Karena itu inilah peristiwa dan rentetan panjang yang terjadi pada negeri ini di berbagai bidang.
            Di bidang Pendidikan, pendidikan kita masih menuai sekelumit permasalahan panjang di dalamnya. Tahun 2015 merupakan bukti dari hancur dan gagalnya budaya pendidikan di negeri ini. Kasus pelecehan seksual pada murid pernah terjadi di tahun ini. Tentu kisah masih mengingat kasus Jakarta Internasional School (JIS). Miris bila kita telusuri lebih panjang dan mendalam. Intinya, siswa yang tak memiliki daya dan kuasa menjadi korban ketidakberdayaan dari Guru bajingan berhati binatang. Selain itu, kurikulum pembelajaran di tahun 2015 pun menjadi pertanyaan besar bagi para peserta didik dan lembaga sekolah yang bernaung di dalamnya. Ketidakjelasan sistem kurikulum KTSP dan Kurtilas menunjukkan kebingungan yang tinggi dalam dunia pembelajaran anak-anak kita. Bagai perahu yang kehilangan kompas, dan tak tahu harus berlabuh kemana. Ketidakjelasan kurikulum yang dimaksudkan disini adalah, adanya kebingungan terkait dengan kontroversi perintah yang diberikan menteri pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan. Instruksinya yang menyuruh beberapa sekolah untuk kembali kepada kurikulum 2006 karena faktor ketidaksiapan unsur-unsur pendukung di dalamnya menjadi faktor pemicu kebingungan siswa dan sekolah-sekolah lainnya. Mereka bingung harus mengikut siapa dan apa yang harus diajarkan serta diterapkan bagi para siswa. Dalam tingkatan yang lebih tinggi seperti Perguruan Tinggi, dunia pendidikan kita pun hancur oleh sekelumit masalah. Lembaga Perguruan Tinggi di Negeri ini bisa dikatakan bagaikan sampah busuk yang tak terurai. Lihatlah betapa mudahnya saat ini beberapa orang mendapatkan ijazah Sarjana, Master, dan Doktor tanpa melalui proses dan latihan yang boleh dibilang cukup panjang. Ijazah palsu menjadi pasar busuk dalam kepentingan politik nan apatis. Ijazah palsu merupakan bukti nyata kebobrokan dan ketidakberdayan dunia pendidikan kita. Dengan mudahnya seseorang bisa mendapatkan ijazah palsu tersebut. Kesemuanya bisa didapatkan hanya dengan sehelai barang yang dinamakan Uang. Uang dapat membeli segalanya, termasuk gelar keakademikan dan keahlian diri seseorang. Mungkin ini adalah bagian terlemah dari tidak berjalannya fungsi pengawasan terhadap dunia pendidikan di tingkatan Perguruan Tinggi. Rasanya harga diri dunia pendidikan kita tak lebih mahal dari tarif seorang PSK. Karena semuanya mengacu pada hasil, bukan proses. Itulah hal unik dalam dunia pendidikan di tahun 2015 ini.
            Dalam dunia Politik pun sama rupanya. Tak ada pembeda di dalamnya. Kesemuanya bagaikan cat hitam dalam topeng sebuah monster. Sekelumit masalah ada didalamnya. Retorika dan rekayasa politik masih menjadi senjata utama di tahun ini. Lihatlah betapa banyak para pejabat di negeri ini yang tersangkut kasus korupsi, kasus pencemaran dan pencatutan nama baik Presiden, kasus perpecahan dalam dunia parlemen (pindahnya beberapa koalisi KMP balik mendukung pemerintah), kasus saling sikut dan sindir diantara para menteri kala ressuflle menteri mencuat kepermukaan, kasus perpecahan partai politik dalam tubuh Golkar dan PKB, dan kasus-kasus lainnya yang terjadi di tahun ini. Uniknya, sedari dulu hingga sekarang tradisi dan budaya politik kita tak pernah berubah. Kepentingan individu dan golongan menjadi cermin dan acuan didalamnya. Tak ada rasa malu sedikitpun yang dicerminkan dari kelakuan para pejabat dan elit kekuasaan di negeri ini. Semua berkata dan berkampanye atas nama Rakyat. Rupanya tanpa disadari oleh orang banyak yang tak berpendidikan, rakyat yang dimaksud oleh mereka juga adalah diri mereka sendiri, dan golongan-golongan seperjuangan mereka sendiri. Kelakuan dan tindakan yang memalukan dipertontonkan dalam layar televisi. Seolah-olah ingin menunjukkan pada rakyat banyak, bahwa eksistensi mereka bagaikan seoonggok bangkai yang menjijikkan dan memuakkan bagi masyarakat yang melihatnya. Penindasan rakyat kecil terus terjadi, kepentingan golongan dan permintaan kenaikan gaji para pejabat juga ada di dalamnya, hukum tajam kebawah dan tumpul ke atas. Sandiwara politik dan saling memanfaatkan kuasa untuk mengintervensi suatu permasalahan juga terjadi. Seolah semua bagaikan panggung sandiwara. Tak ada hikmah dan kesan yang dapat diambil untuk pembelajaran. Rasanya politik kita di tahun ini, jauh lebih mirip disamakan dengan dunia sinetron yang telah terstruktur, rapih, dan rekayasa murni di dalamnya. Itulah kesan yang dapat dipetik.
            Dari dunia Teknologi, Informasi dan Komunikasi. Pada bidang ini terjadi begitu banyak fenomena yang positif dan negatif. Ide dan gagasan baru terjadi di tahun ini. Perkembangan dunia teknologi yang semakin kejam nan bersaing membuat unsur interaksi sosial secara langsung menjadi terkikis. Pasalnya, semua aplikasi dan kemudahan interaksi telah tercipta melalui jejaring sosial. Hal ini memberikan kemudahan dalam ruang lingkup yang besar dan waktu yang singkat.  Di tahun 2015, negeri ini dilanda begitu banyak hal-hal positif dan negatif. Kebebasan seseorang untuk menjelajah di dunia maya memberikan bukti nyata di dalamnya. Tak hanya positif, juga sering kali negatif. Dalam katagori positif, di tahun 2015 ini, ada begitu banyak ide dan pengembangan gagasan untuk kemudahan masyarakat. Tentu kita masih ingat bagaimana gejala awal munculnya Gojek, Grabike, dan Grab Car. Tumbuh bagaikan semut yang sedang sibuk menggrogoti sebutir gula. Kehadirannya pun menuai pro dan kontra. Namun masyarakat luas menganggap, bahwa kemunculan aplikasi online berbasis transportasi ini lebih memberikan manfaat dan pengaruh positif di dalamnya ketimbang hal negatif. Hal ini juga dirasakan sebagai langkah awal pengurangan jumlah pengangguran dan pembukaan lapangan pekerjaan. Dalam dunia komunikasi, negeri ini layaknya lebih menyukai unsur rekayasa dan sandiwara di dalamnya. Lihatlah sekarang ini, bagaimana dunia pertelevisian kita ?. Hampir tak ada unsur edukasi yang bisa kita dapatkan dari televisi saat ini. Beberapa stasiun TV saling menyerang, dan tidak netral. Tak hanya itu, beberapa stasiun TV dengan bangga mempersembahkan suguhan yang amat memalukan dan menjijikkan bagi para penontonnya. Hal ini dikarenakan, kepentingan politik telah merambah dan mencemari dunia informasi dan komunikasi pertelevisian di negeri ini. Rasanya KPI seolah menutup mata akan fenomena dan peritiwa ini. Tak ada langkah kuat yang dapat dilakukan KPI, karena mereka tau semua itu penuh resiko tinggi dan bahaya di dalamnya. Tentu kita juga masih mengingat bagaimana Presiden di Repbulik ini disadap oleh negeri lain, ini adalah bukti dari kekurangan kita, terkhusus dalam bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi itu sendiri. Kesemuanya haruslah diperbaiki dan diubah sedemikian rupa, agar tidak lagi terjadi peristiwa dan kejadian kelam di tahun 2015 ini. Rasanya kesan dari dunia Teknologi, Komunikasi dan Informasi yang dapat kita petik ialah kebaharuan yang dibentuk dengan tujuan yang tak lebih dari sekedar dusta dan rekayasa belaka.
            Peristiwa dan kejadian aneh juga terjadi dalam dunia Transportasi, sejatinya negeri ini tak lagi menyediakan jasa transportasi yang aman dan nyaman, sebagaimana hal ini harus sesuai dengan standar operasional keselamatan Internasional. Jangankan internasional, dalam skala nasional saja kita tak mampu untuk mencukupinya. Tahun 2015 menyumbang begitu banyak air mata dan kepiluan hati. Seolah menyayat hati hingga empedu. Tentu saja, sayatan tersebut karena begitu banyaknya musibah dan kelalaian manusia didalamnya, seperti penipuan jasa transportasi, kecelakaan transportasi (baik darat, laut dan udara), serta korupsi dan penyalahgunaan hak jalan pada beberapa operator pengguna transportasi. Ketidakberdayaan dan etikad buruk pengelolaan transportasi di negeri ini, memberikan penilaian negatif bagi hampir seluruh masyarakat. Rasa cemas, takut, dan hati-hati pun muncul dalam diri setiap orang terhadap transportasi yang ada di dalam negeri ini. Karena hakikinya, dunia transportasi kita tak lebih dari sebuah pengejaran keuntungan nan kapitalis. Di tahun ini, tentu kita masih ingat bagaimana kecelakaan dan dukacita yang mendalam menghiasi dunia transportasi kita. Jatuh dan hilangnya beberapa pesawat menghiasi kelamnya dunia transportasi di udara, tenggelamnya beberapa kapal feri di perairan Indonesia menghiasi bencana dunia transportasi laut, kecelakaan metromini dengan kereta dan terbakarnya beberapa busway di jalan raya juga menunjukkan ketidaksiapan kita dalam mempertimbangkan unsur keselamatan nyawa orang banyak. Kecelakaan tersebut dipicu dari adanya ketidaksiapan pihak pengelola jasa transportasi di dalamnya, selain itu SDM dan ketidaklayakan kondisi kendaraan yang ada pun belum memadai, namun tetap dipaksakan. Belum selesai kecelakaan pesawat terjadi, di laut dan daratan sudah muncul kembali kepermukaan, seolah-olah bencana dan musibah dalam dunia transportasi kita adalah bagian dari cerminan perilaku warga yang berdiam dalam bangsa dan negara ini. Perilaku yang kurang disiplin, tidak jujur, dan tidak memiliki tanggung jawab penuh bagi keselamatan orang di dalamnya. Sehingga kesan yang paling banyak dipetik oleh masyarakat kita dalam dunia transportasi tak lebih daripada sebuah undian lotre, yang kadang beruntung dan kadang buntung. Bila tidak beruntung, maka kecelakaan atau maut akan menjemputnya.
            Dalam bidang Ekonomi dan Lingkungan pun, negeri ini rasanya cukup tawar hati dan harus mau untuk menelan ludah. Sungguh, ini diluar kendali dan musibah yang dikendalikan. Keduanya hampir sama, namun berbeda dimensi saja. Carut marut dunia perekonomian kita di tahun 2015 memicu banyaknya tuaian hujatan dan kontroversi di dalamnya. Percepatan pembangunan ekonomi masyarakat kita memang merupakan tujuan utama dan etikad baik, namun lihatlah sekerumit masalah di dalamnya. Dalam satu tahun saja, nilai tukar mata uang Rupiah hampir tak menentu. Kadang jatuh dan terjerumus amat dalam, hingga hampir mencapai Rp.15.000/dolar AS. Namun terkadang menguat di luar dugaan semua pihak. Semua mata dan pihak tak mengerti mengapa masalah ini bisa terjadi. Apakah ini masalah yang diluar kendali atau masalah yang sengaja dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu ?. semua boleh bertanya, semua boleh mempersepsikannya dalam bentuk apapun itu. Karena sejatinya, manusia sosial tak akan memandang sebuah unsur permasalahan hanya dari sudut pandang tertentu saja. Melainkan unsur pandang yang universal dan mengglobal. Tak hanya itu, di tahun 2015 ini, pembangunan ekonomi yang diwujudnyatakan pada percepatan infrastruktur harus mengorbankan sesuatu. Sampai saat ini, hubungan kerjasama ekonomi Indonesia dengan China serta Jepang mulai terganggu. Akibat utang luar negeri dan bantuan yang tak saling menguntungkan. Misalnya, dalam proyek kerjasama kereta cepat rute Jakarta-Bandung, dan penyediaan tenaga kerja asing di negeri Ibu pertiwi ini. Semuanya dipandang sebagai salah satu sisi permasalahan dunia ekonomi kita. Saking besarnya pengaruh perkembangan ekonomi suatu negara yang mulai kolabs, hal ini pun merambah pada kelingkungan dan habibat hidup makhluk hidup. Tentu peristiwa dan kejadian memilukan Kebakaran Hutan di Sumatera dan Kalimantan sangat sulit untuk kita lupakan. Bak secercah parasit yang terus menempel dalam diri seseorang. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang hampir membakar lahan seluas 5 Hektar ini menimbulkan begitu banyak derita dan korban yang ada. Penyakit pun sudah pasti terjadi. ISPA menjadi penyakit yang paling populer dan eksis. Hal ini dapat terjadi karena manusia mulai melupakan unsur etika Lingkungan di dalamnya. Ketidakbertanggungjawaban manusia akan alam pemberian Tuhan, memberikan bukti bahwa sejatinya manusia merupakan insan yang rakus dan selalu tidak puas dengan apa yang didapatkannya. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, adalah wujud dari ketidakberdayaan pemerintah kita dalam dunia perekonomian. Terbukti, pembakaran hutan dan lahan ini dilakukan secara sengaja. Haluannya ialah demi kepentingan ekonomi. Perusahaan-perusahaan besar asing dan lokal, menjadi pelaku utama perusakan lingkungan ini. Pengubahan bentuk lahan dari hutan yang tak terpakai dibuka dan diubah menjadi lahan sawit. Dengan hasil pengeluaran yang rendah, nantinya akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hal ini, merupakan ujud dari adopsi paham kapitalisme yang berkembang dalam masyarakat kita. Pengrusakan hutan dan lahan hanya demi sebuah uang, menunjukkan betapa busuknya iman, hati dan nurani para pemimpin di negara ini. Pemberian legalisasi dan izin yang sewenang-wenang kepada perusahaan asing, ternyata melahirkan datangnya bencana yang begitu kompleks nan rumit, hingga melibatkan negara-negara dunia lainnya keram dan marah pada Indonesia. Karenanya boleh jadi pembakaran hutan dapat dikatakan merupakan masalah yang dikendalikan oleh manusia-manusia binatangisme. Bukan sepenuhnya bencana yang diberikan oleh alam dan perut bumi.

Karenanya, kesemua yang telah terjadi pada negeri ini, ingin menunjuknyatakan bahwa :


“NEGERI INI MEMILIKI POTRET KEHIDUPAN YANG TAK LEBIH DARI PROBLEM DAN SEONGGOK SIFAT BINATANGISME PADA MANUSIANYA”

Kamis, 31 Desember 2015

EKSISTENSI WANITA DI TENGAH PEMBANGUNAN DUNIA MODERN.

Kemajuan dan perkembangan zaman menuntut segalanya menjadi berubah. Tak ada batasan perubahan yang dapat dihindari oleh manusia. Manusia seolah turut ikut terjerat dalam perubahan tersebut. Perubahan dalam dunia pendidikan, teknologi dan informasi, pekerjaan, serta perubahan dalam bentuk status kehidupan. Pembangunan suatu negara bisa dikatakan tak lepas dari sebuah arus modernisasi. Dimana modernisasi membuat segalanya berubah. Dari tradisional menjadi modern, dari tahap tertinggal menuju tahap kemajuan dan kemandirian. Sejatinya, Modernisasi juga mengubah struktur dan tatanan kehidupan manusia. Hal ini tak terlepas dari adanya suatu pengaruh pengubahan bentuk manusia seutuhnya. Dari manusia dengan pemikiran primitif menuju manusia modern yang sepenuhnya realistis, logic, dan hedonisme.
       Perkembangan dan Pembangunan suatu negara juga ditandai dengan lahirnya beberapa kaum pelopor yang besar dan hebat. Mulai dari pelopor kebebasan beragama, hingga pelopor kesetaraan gender. Penuntutan kebutuhan dan hak haruslah terpenuhi. Untuk itu, seiring dengan tergerusnya zaman modern yang cenderung mengglobal, perubahan pesat terjadi pada status kesetaraan peran dan partisipasi seseorang di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya Kaum Wanita sebagai pelopor kesetaraan Hak dan Peran dalam dunia yang kian mengglobal nan modern ini.
       Hakikinya, carut marut perkembangan suatu negara tak terlepas daripada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam negeri itu sendiri. Pemberdayaan Wanita dalam segala bidang mulai dilakukan. Gerakan Feminisme yang muncul disetiap negara membuat setiap wanita terjerus untuk ikut didalamnya. Eksistensi dan Pengaruh wanita dalam dunia era modern mulai memberikan sumbangsih yang begitu besar. Hal ini terbukti dengan adanya pembuktian secara empiris bahwa wanita hakikiya memiliki peran ganda. Peran Ganda sebagai Pembantu atau Penolong dan sebagai Wanita Karier (Pekerja). Peran ganda tersebut membuktikan bahwa pada kenyataannya wanita tidak dapat diremehkan dan dianggap enteng, terutama dalam hal pembangunan suatu negara, baik dalam pembangunan ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial lainnya. Karenanya, laki-laki dan wanita di zaman era modern ini dianggap seimbang dan saling memberikan kontribusi tertentu terhadap pekerjaan dan pelayanan yang dilakukannya. Kesemuanya adalah dasar dari wujud pengaplikasian kesetaraan gender yang ada dan berlaku di negeri ini.
       Dalam hal pembangunan sering sekali dibahas mengenai persamaan gender dalam pembangunan, dimana fokus utama yang dimaksudkan adalah bagaimana melibatkan perempuan di dalam pembangunan sebagaimana laki-laki. Permasalahan ini disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia perempuan itu sendiri, tentu saja rendahnya sumber daya manusia ini juga karena kurang terbukanya akses perempuan dalam hal perbaikan sumber daya, hal ini menyebabkan kaum perempuan tidak dapat bersaing dengan kaum laki-laki di dalam pembangunan. baik dalam hal apapun itu.
       Munculnya kaum Wanita sebagai pelopor kesetaraan peran dan partisipasi, sebagai wujud dari adanya keresahan di tengah-tengah pertumbuhan dan guncangan peran laki-laki yang mulai menurun. Sebagian ada yang menganggap bahwa kedepannya wanitalah yang akan menggantikan peran sekaligus pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Hal ini didasari oleh survey yang menunjukkan bahwa jumlah laki-laki tidaklah sebanding banyaknya  jumlah Perempuan. Perkembangan dan Pembangunan upaya pemberdayaan wanita, dari zaman dulu hingga sekarang mulai marak terjadi. Hal ini ditandai dengan banyaknya karya, sumbangsih, dorongan untuk maju dan memberikan yang terbaik. Hakikinya, gender lebih tepat selalu menitikberatkan pada partisipasi dan peran wanita dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, wanita tidak lagi ditempatkan sebagai “lian” (pembantu). Tetapi haruslah ditempatkan sejajar secara harkat dan martabatnya. Sebagaimana hal ini telah diuraikan dan disampaikan oleh para ahli pelopor lahirnya kesetaraan kaum dan peran kewanitaan .
       Margareth Mead ialah salah satu tokoh yang memperjuangkan hak serta kewajiban seorang wanita. Dimana, dua teorinya yang teramat sangat populer pada masa itu dapat menarik perhatian lebih. Ia membagi wanita kedalam dua peranan tertentu. Ia menyebutnya sebagai Nature dan Nurture. Dimana Nature merupakan unsur kodrati dan alamiah yang dimiliki pada hidup seorang wanita, dan Nurture adalah peran ganda diluar daripada peran kodrati yang diterimanya. Kedua aspek fenomenal ini disampaikan melalui paparannya yang cukup memprihatinkan pada saat itu. Ditengah-tengah kondisi wanita yang pada masa lalu mengalami penindasan di segala bidang kehidupan. Margaret Mead menganggap, bahwa kedua aspek tersebut cocok untuk diterapkan di desa maupun kota. Juga cocok untuk zaman dahulu hingga zaman sekarang. Ia membagi nature kedalam peran sebagai “kanca wingking” (pembantu dibelakang), yang bisa diartikan sebagai ibu rumah tangga. Seorang perempuan sepenuhnya harus bekerja mengurus anak, suami, masak, mencuci dan bekerja didapur saja. Sedangkan Nurture adalah peran ganda yang dijalani wanita selain dari pada peran kodrati tersebut. Misalnya,  wanita memiliki motivasi tinggi untuk bekerja, serta peran, kontribusi dan fungsinya tak hanya sebagai wanita “kanca wingking”, tetapi setara dengan laki-laki bahkan bisa lebih dari pada laki-laki. Kesemuanya itu sangatlah universal dan fleksibel. Bahwa sejatinya dalam dunia modern ini wanita merupakan sosok dan figur pembangunan, baik dalam segi pertumbuhan ekonomi maupun dari segi peran dan partisipasi yang ada dalam keluarga.
       Lihatlah betapa banyaknya wanita-wanita hebat di era sekarang. Aku begitu kagum melihat sesosok wanita melakukan pekerjaan berat dan menantang. Sebagian wanita hebat itu, kini dapat kita saksikan melalui mata kita sendiri, nyata dan bukan rekayasa. Seolah menyindir dunia pertelevisian di negeri ini yang semakin bobrok dan penuh sandiwara. Ada yang bekerja sebagai pilot pesawat tempur, kondektur busway, presiden, hingga dalam berbagai proyek-proyek borongan. Dahulu tak ada wanita yang mampu melakukan kesemua pekerjaan tersebut. Tapi lihatlah kini, apa yang ada di depan mata kita telah nyata. Wanita bertransformasi layaknya kepompong yang menjadi kupu-kupu. Indah dalam proses perubahan peran, dan beracun baginya bila tak dimaknai secara baik dan benar.

Sejatinya, wanita yang hebat ialah


"SESOSOK MANUSIA YANG TAHU PERAN DAN KEBERMAKNAAN HIDUPNYA DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT". 
NATAL, YESUS, DAN GUSDUR.

            Natal adalah moment peringatan akan kelahiran Yesus Kristus.  Sekitar 2000 tahun yang lalu peristiwa ini mencengangkan bagi seluruh umat di dunia. Natal tak terlepas daripada kasih kemurahan Allah. Sejatinya, manusia tak sanggup memikirkan dengan akalnya yang hanya seoongok daging itu. Natal ialah suatu kasih sukacita Allah yang diwujudnyatakan melalui tokoh Yesus. Hakikinya, Allah menunjukkan kuasanya yang begitu hebat dan tak terselami oleh otak dan rasio manusia. Kelahiran Yesus, tak terlepas dari adanya keprihatinan Allah dan empati pada manusia. Natal, sejatinya merupakan suatu ungkapan yang ingin dinyatakan Allah pada manusia secara konkret dan nyata. Iman pengharapan akan seorang Juru’slamat yang dinantikan oleh banyak orang kini telah nyata. Sejatinya Allah itu ialah Roh, tidak berwujud dan tidak berupa. Namun ketidakpercayaan manusia terhadap penciptanya sendiri kini telah Ia buktikan. Bagi orang yang tidak mempercayai peristiwa ini, natal ialah suatu peristiwa yang diharamkan. Mereka tak mau mengakui bahwa Allah telah turut hadir dalam kepiluan hidup mereka. Namun bagi orang percaya, peristiwa kelahiran Yesus ialah suatu kasih sukacita, yang telah dinyatakan Allah secara konkret dalam wujud cinta kasihnya akan Manusia.
       Allah sendiri ingin ikut turut menyaksikan dan merasakan penderitaan manusia, Ia ingin ciptaannya tak durhaka dan berpaling tamak darinya. Kebingungan manusia selama ini akan jalan pendamai dan penyelamat telah Ia nyatakan. Lihat dan saksikanlah, betapa mengerikannya peristiwa kelahiran Al-Masih tersebut. Allah menyatakan kemuliaannya dengan mengutus Malaikat Gabriel (Jibril dalam Islam) kepada Ibu Yesus yang bernama Maria (Maryam). Kelahirannya tanpa sedikitpun persetubuhan bersama dengan Suaminya, Yusuf. Tak hanya itu, Allah juga menyatakan kemuliaannya kepada para gembala di padang gurun. Malaikat menyampaikan bahwa pada hari itu, telah nyata kemuliaan Allah dalam seorang bayi yang telah lahir dalam sebuah kandang domba yang hina, di Betlehem. Sebagai manusia biasa, bagaimana mungkin hal itu akan terjadi ? adakah manusia yang lahir tanpa bersetubuh antara laki-laki dengan perempuan ? sejatinya, kuasa Allah yang ada tak mampu diselami oleh akal rasional manusia.
            Kelahiran Yesus pada kala itu, hanyalah bagian kecil dari pada kasih kemurahan Allah dalam dunia yang semakin gelap ini. Seolah-olah dunia menutup mata terhadap sesuatu yang dipandang tak rasio. Dari peritiwa ini, yang perlu kita pertanyakan adalah mengapa Yesus lahir dalam sebuah kandang domba ?  Kelahiran Yesus menunjukkan bahwa sejatinya seorang Juruslamat diutus bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Kelahirannya dikandang domba inilah yang ingin ditunjukkan pada manusia, bahwa konsep kesederhanaan tak hanya dimiliki oleh seonggok daging manusia, tapi Allah juga memiliki sikap kesederhanaan itu. Karena itu, seiring bertambah dan berkembangnya peradaban manusia, makna Natal kini telah berubah. Miris bila kita melihat dan menyelaminya. Dalam dunia modern, natal dimodifikasi dan didesain sesuai dengan kebutuhan manusia. Kebenaran yang ada mengikuti tradisi dan peradaban umat manusia, dan bukan malah sebaliknya. Lihatlah betapa malangnya nasib umat manusia yang tak melihat makna dan keutuhan konteks dari pada sebuah Natal. Makna Natal telah dicemari, didesain, dikontruksikan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Mereka dengan begitu hebatnya mendesain natal dengan banyaknya atribut yang membingungkan dan sangat asing bagi kehidupan kita, seperti pohon natal, kue natal, santa clause, salju, musim dingin, kado natal, anggur dan minuman keras serta atribut-atribut lainnya. Padahal sejatinya, bukan itu makna dan keutuhan konteks yang ingin diperlihatkan Allah dalam peristiwa kelahiran Yesus 2000 tahun yang lalu. Peringatan kelahiran Yesus yang sering disebutkan oleh orang banyak sebagai Natal, sejatinya memiliki esensi dan eksistensi yang lebih daripada yang telah dipaparkan diatas. Allah ingin menunujukkan bahwa makna Natal ialah berbagi kasih, adanya kesederhanaan hati, bersyukur, dan senantiasa menyatakan di hadapan Allah bahwa terang itu telah hadir dalam diri dan keterbatasan mereka masing-masing.
        Peristiwa Natal tak dapat dipisahkan dari konsep kebaikan Allah akan harapan manusia. Manusia yang telah memiliki iman pengharapan keselamatan bertahun-tahun lamanya kini telah konkret. Yesus telah hadir dalam dunia yang gelap, dan menjadi terang dalam kegelapan itu sendiri. Ia bagaikan api yang tak pernah mati kala disiram air. Kelahirannya yang begitu mencengangkan dunia memberikan makna tersendiri bagi yang percaya kepadaNya. Sungguh ini diluar kuasa otak manusia. Pun sejatinya juga terjadi pada peristiwa Isra Miraj yang penuh ketidakmengertian manusia terhadap kuasa Allah. Sehingga bila umat manusia percaya akan hal ini, maka manusia akan menerima balutan damai, kasih sukacita, dan pengharapan yang teguh dalam kesesakan. Sejatinya, konsep kesederhanaan dan sukacita yang ditunjukkan Allah mengingatkan kita umat manusia agar tidak menyombongkan diri dan saling mengasihi.
            Untuk itu, makna natal haruslah dipandang sebagai bentuk kuasa penyelamatan Allah melalui diri Yesus untuk menghindari kesombongan dan sikap tak peduli satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang mungkin sekiranya ada dalam diri Gusdur. Mungkin, Gusdur adalah satu dari antara banyaknya umat manusia yang menutup mata akan peristiwa ini. Kesederhanaan Gusdur dalam hidupnya menunujukkan, bahwa ia telah mengaplikasikan konsep natal dalam dunia yang begitu gelap. Ucapan dan tutur katanya seolah meluluhlantahkan kefanatikan manusia-manusia yang hatinya dikuasai oleh Iblis. Walau semua masyarakat Indonesia tahu bahwa Gusdur beragama Muslim, tapi dengan lantang Ia mengatakan bahwa “Yesus bukanlah Juruslamat umat Kristen saja, tapi Yesus adalah Juru'slamat bagi umat Dunia”. Kata dunia disini, dapat dimaknai sebagai ujud keuniversalan terhadap seluruh manusia tanpa melihat perbedaan. Baik dalam perbedaan kulit, suku, agama dan status golongan. Ini menyatakan bahwa kelahiran Yesus Kristus, bukan saja dimaknai sebagai pesta besar bagi umat Kristiani. Gusdur ingin mengatakan bahwa ketidakberdayaan manusia sejatinya haruslah ditangani oleh kasih kemurahan yang daripada Allah sendiri. Terkadang, ketidakberdayaan manusia itu bisa dalam bentuk sering mengabaikan unsur kerukunan, kedamaian, dan persatuan. Manusia ingin menang sendiri, egois, serakah, tak punya kepekaan sosial, sulit menerima kenyataaan yang diluar akal pikirannya, dan menutup mata akan realita kemiskinan sesamanya. Padahal Gusdur ingin mengatakan bahwa Natal adalah kebaikan yang diberikan TUHAN untuk Dunia ini. Karena itu, sering kali dalam kehidupan yang fana ini kita masih sering sulit untuk berbagi, menolong orang lain, rendah hati, sombong, pendendam. Maka dari itu, NATAL ingin membuktikan bahwa 


"MAKNA NATAL TAK HANYA SEKEDAR ATRIBUTNYA, MELAINKAN PENUNJUKKAN APLIKASI KESEDERHANAAN DAN KASIH KEPADA SESAMA UMAT MANUSIA".

Rabu, 23 Desember 2015

INI HARI IBU, BUKAN HARI BAPAK.

            Manusia lahir melalui proses yang sangat panjang. Tahap demi tahap, waktu demi waktu, serta musim demi musim. Sejatinya, tak ada satu manusia pun yang lahir dari rahim seorang Bapak. Semua manusia pastilah terlahir melalui rahim seorang perempuan, sebagaimana yang kita sebut sebagai Ibu. Ibu ialah sosok penting dalam sebuah keluarga. Balutan cinta, kehangatan, perhatian, dan kasih sayang ada dalam diri seorang Ibu. Ia mampu memberikan semuanya itu untuk Anaknya. Ia tak pernah pilih kasih. Semuanya diberikan dan dilakukan dengan tulus, tabah dan ikhlas. Ibu adalah sumber kebahagiaan yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Karenanya, sosok ibu ditempatkan sebagai peran pendamping atau partner, bukan sebagai pembantu suami. Walau dalam kenyataannya Ibuku dan Ibumu tidaklah sama. Pastilah ada karakter tertentu yang tak bisa kau lupakan dan samakan dengan sosok ibu lainnya.
            Kala hari ibu tiba, ada tradisi dan kebiasaan yang tak biasa. Semua orang sibuk mengucapkan hari Ibu. Semua Medsos ramai memperbincangkan hari ibu. Mereka berfoto selfie bersama, memberikan setangkai bunga, juga memberikan surprise yang teramat sangat mengharukan bagi Ibunya. Semuanya itu mereka lakukan untuk menghargai dan menghormati sosok seorang ibu yang pernah ada dalam hidup mereka. Hal itu sangatlah lumrah. Seorang anak sejatinya memang harus berbakti pada ibunya. Karena Ibu bagaikan sesuatu yang teramat spesial, bagai martabak telor. Rasanya tak dapat dipersepsikan, baik dalam bentuk pikiran,ucapan, maupun perbuatan. Ia menjadi candu bagai koruptor yang haus akan jabatan dan kekayaan.
            Ini kisah tentang Ibuku. Kesemuanya ini kutulis, sebagai bentuk pengungkapan rasa hormat dan sayangku padanya. Sejak kecil hingga dewasa, seluruh Anak-anaknya ia rawat dan kasihi. Begitu banyak cerita dan pengalaman yang tak terlupakan kala ia berjuang membesarkan anak-anaknya. Ia seperti malaikat yang dikirim oleh Tuhan menjadi pengasuh dan penolong bagi kami anak-anaknya. Dahulu segelintir masalah dan cobaan datang mendera pada keluarga ini. Ayahku lumpuh, sehingga Ia tak dapat bekerja lagi. Rumah hunian kami hanya beralaskan tikar, bilik dan bambu yang rasanya hampir roboh. Tak ada satu batupun yang hinggap dalam bentukan rumah ini. Kami sekelurga hidup dalam pernak-pernik kemiskinan.  Kesusahan dan kemalangan ada pada keluarga ini. Pahit memang bila diingat kembali. Rasanya, kala itu aku menilai bahwa kami akan mati dalam kesusahan dan kemiskinan. Tak ada yang dapat dilakukan oleh Ayahku kala itu, ia benar-benar harus istirahat total dari segala aktivitasnya. Kala Ayahku lumpuh, tak ada pilihan lain bagi ibuku. Walau dengan keadaan sesusah apapun, Ia tetap setia mendampingi Ayahku dan memberikan hidup anak-anaknya. Akhirnya, Ibuku lah yang menggantikan peran dan tanggung jawab sebagai tulang punggung. Meski dahulu Ibuku tak memiliki keahlian dan kompetensi yang hebat, namun tekad dan kerja kerasnya lah yang hanya diandalkannya. Ia mau melakukan hal apapun, yang penting anak dan suaminya bisa hidup. Ia berdagang, menjadi kuli bangunan, membantu orang dipasar, dan kerja serabutan lainnya. Ia bagaikan Hulk yang hebat dan gagah, yang melakukan segala sesuatunya tanpa keluh kesah. Tekadnya bagaikan kendaraan yang haus akan bensin. Kegigihannya tak perlu lagi diragukan. Kadang, kala ia bekerja sebagai pembantu, tak jarang orang menghina dan melecehkannya. Namun ibuku tak pernah ambil pusing tentang omongan orang lain. Baginya yang terpenting ialah ora et labora, (berdoa dan berusaha). Kini Ibuku berganti peran dengan Ayahku, boleh dikatakan Ialah kepala Rumah Tangga dalam keluarga ini. Karena telah berpuluh-puluh tahun hidup sebagai tulang punggung keluarga yang sejati. Tak jarang, pengalaman pahit yang dirasakan oleh Ibuku, ia ambil dan petik sebagai pembelajaran baginya. Bertahun-tahun ia melakukan hal tersebut, tahap demi tahap dan luka demi luka pun telah berpindah singgah. Kemalangan digantikan oleh sukacita, tangisan digantikan oleh tawa kebahagiaan.
            Ibuku selalu mengajarkan hal baik pada Anak-anaknya. Ia tak ingin seluruh anak-anaknya memiliki nasib yang sama seperti nya. Ia selalu mengajarkan kami, untuk menjadi yang terbaik dalam setiap tantangan. Apapun itu dan dimanapun. Tak jarang, bila Kami anaknya bersalah, ia tak segan untuk memukuli kami. Namun, semuanya itu dilakukan agar kami anak-anaknya tahu siapa dan bagaimana pola kehidupan orang tua kami. Semuanya demi kebaikan kami kedepannya. Ia tak pernah ragu sedikit pun dalam memberikan suatu keputusan. Gaya berbicara yang lantang dan tegas, seolah meluluhlantahkan orang-orang jahat disekitarnya. Apa yang dianggapnya salah, haruslah diberi hukuman. Maka dari itu, kami lebih cenderung dibesarkan dalam kondisi keluarga yang otoriter. Tak boleh melawan, dan harus terus selalu patuh, sopan dalam berbicara, kesemuanya itu ialah dokrin yang selalu diajarkan pada kami. Walau terkadang hati nurani Ibu beserta Ayahku sesekali muncul dan memberikan kehangatan dalam canda dan tawa. Ibuku benar-benar merupakan sosok yang tak bisa terlupakan. Dalam hal pendidikan, Orangtuaku secara tegas mengatakan bahwa sesulit apapun keadaannya, kami anak-anaknya haruslah tetap bersekolah. Tak boleh ada satupun anaknya yang putus sekolah. Tak jarang, apabila ada anaknya yang berprestasi di sekolah, Ia memberikan sebuah hadiah. Karena baginya, hadiah tersebut merupakan imun pembangkit semangat belajar anaknya.
            Ketika kami anak-anaknya mulai tumbuh remaja dan dewasa, Ia merupakan sosok satpam sejati bagi hidup kami. Kami hidup dalam aturan yang sistematis, taratur, dan tertata rapih. Tak ada celah sedikitpun bagi kami anak-anaknya untuk menyimpang. Keadaan semakin menghimpit kehidupan kedua orangtuaku. Anak-anaknya kini telah dewasa, tapi ia bertekad untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya sampai setinggi-tingginya. Ibuku pernah berucap kepada kami, “Sampai Kaki jadi Kepala dan Kepala menjadi Kaki pun, Ibu siap untuk menyekolahkan kalian setinggi-tingginya, Siapa yang siap untuk Maju, Ibu siap membantu kalian !”. Mungkin itulah seonggok kalimat yang mungkin masih terngiang di telinga kami, anaknya. Ia selalu mendorong kami, ia tak pernah membuka tabib kesusahan, apalagi dalam masalah keuangan untuk sekolah dan kuliah anaknya. Karena baginya, kami harus bahagia dan memiliki nasib yang lebih baik darinya. Entah mengapa, tradisi dalam suku Batak memandang bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam hidup ini. Mungkin wejangan inilah yang dulu dibawa oleh orangtuaku dari kampung. Karenanya kini ia terapkan pada anak-anaknya. Ibuku sangat tegas dalam hal ini. Ia tak mau anaknya gagal dan durhaka kelak padanya. Semuanya Ia lakukan melalui transformasi panjang yang sangat memilukan.
            Ibuku juga sangat tegas dan keras pada kami dalam hal percintaan, Ia tahu bahwa kini kami telah berada pada fase dan tahap manusia pra-dewasa. Ia tahu dan sesekali memperhatikan tingkah laku kami apabila sedang jatuh cinta. Bukannya ia tak mau membatasi kami untuk jatuh cinta dan tertarik pada lawan jenis. Namun ibuku tampaknya memiliki sikap khawatir yang amat mendalam pada anak-anaknya. Ia tak ingin anak-anaknya jatuh kejalan yang salah hanya karena wanita lain dalam hidupnya. Terkadang ucapan dan larangannya yang sangat tegas membuat kami harus tercengang dan menahan kepahitan cinta. Semua anak lelakinya selalu diberi wejangan dan masukan. Bak seorang tentara yang akan pergi berperang. Ia selalu mengingatkan pada anak lelakinya, kasihilah wanita dan jangan pernah menyakiti perasaannya. “Kita sekarang ini hidup dalam dunia modern, kalau kau tidak memiliki pekerjaan yang mapan dan mencukupi, jangan coba-coba berpacaran apalagi melamar seorang wanita, lebih baik fokus pada karier dan masa depanmu”. Pahit memang aturan dan masukan itu bagi kami anak lelaki dikeluarga ini. Namun, Saya beranggapan bahwa apa yang dikatakan oleh orangtuaku itu ialah hal yang baik, ia tak ingin anak-anaknya kelak akan mengalami kesusahan dalam menghidupi anak orang lain. Ibuku tak ingin kelak, anak lelakinya sama seperti Bapakku yang kini perannya telah tergantikan oleh Ibuku. Karenanya, ia dengan begitu keras mengingatkan kami pada hal-hal fundamental tersebut. Selalu berhati-hati dalam memilih kawan, dan jangan sampai jatuh kedalam pelukan wanita sebelum masa mapan tiba.
            Dalam kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari, ibuku selalu berbagi. Ia ingin menunjukkan kasih dan sukacitanya pada sesama tetangga, saudara dan orang-orang lain disekitar rumahku. Kala hari besar keagamaan tiba, Ibuku selalu memberikan kue pada tetanggaku yang beragama Muslim. Tak hanya itu, apabila ada makanan yang lebih dikeluarga kami, Ia selalu menyuruhku untuk mengantarkannya ke tetangga. Ia ingin, walau dalam kesusahan, konsep berbagi tak boleh ditinggalkan. Apapun yang terjadi, rezeki ialah urusan ilahi. Aku saja yang anaknya merasa heran, mengapa ibuku masih saja sempat berbagi pada orang lain, padahal ia tau bahwa keluarga ini saja masih berkekurangan ?. Inilah konsep berbagi yang diajarkan oleh Ibuku kepada anak-anaknya. Ia memberikan teladan yang begitu kuat pada kami anaknya. Sehingga tak ayal, kebiasaan-kebiasaan baik dan empati yang dilakukan oleh Ibuku, tak jarang dibalas oleh tetanggaku yang beragama Muslim. Kala lebaran Tiba, tetanggaku mengantarkan ketupat, opor ayam, dan makanan-makanan khas lebaran lainnya. Semuanya itu dilakukan tanpa pamrih dan mengharapkan imbalan apapun. Karenanya, kehidupan sosial di lingkungan kami jauh dari kata intoleran, semua hidup rukun dan keberagaman dijunjung tinggi dalam masyarakat yang multikultural.
            Kini, berkat tekad dan kerja kerasnya dimasa lalu. Ibuku dan Ayahku telah berhasil menyekolahkan kami anak-anaknya hingga Perguruan Tinggi. Hampir seluruh anak-anaknya kini telah menjadi Seorang Sarjana, sebagian ada yang telah bekerja dan merajut karier yang matang. Hanya Akulah yang belum menyandang gelar sarjana tersebut. Mungkin Tuhan ingin memberitahu pada umatnya melalui sosok seorang Ibu, bahwa usaha dan doa yang giat akan membuahkan hasil yang terbaik. Karena proses tak akan menghianati hasil.  


Karenanya : “HARI IBU YANG SEJATI IALAH MOMENT KEBERMANFAATAN KITA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI, AJARAN, SERTA MENGANGKAT MARTABAT SEORANG IBU MENJADI WANITA YANG MULIA SEUTUHNYA, BUKAN HANYA MELALUI UCAPAN DAN EUFORIA SESAAT SAJA”.  

Senin, 01 Juni 2015

PANCASILA


Pancasila merupakan konsep kenegaraan dan kebangsaan bagi bangsa Indonesia. Pancasila lahir tidaklah dengan hal yang mudah dan praktis. Sejarah mencatat, perkembangan awal terbentuknya konsep ideologi ini terbentuk menjelang kemerdekaan RI. Ketika waktu itu, para pendiri bangsa atau yang sering kita sebut dengan "The Founding of Fathers" berlomba-lomba untuk memberikan gagasan dan pikirannya yang tepat dan sesuai dengan karakteristik serta ciri khas bangsa Indonesia itu sendiri. Ada banyak pilihan waktu itu. Ada banyak konsep waktu itu yang ditawarkan oleh beberapa manusia lainnya. Dan ada banyak kebingungan juga pada waktu itu. Sebelum merdeka, bisa kita bayangkan pada waktu itu betapa rapuhnya landasan sebuah negara ditengah semangat juang yang membara dan berapi-api mengharapkan Kemerdekaan. Ingin merdeka tetapi belum ada Ideologi dan landasan yang kuat. Ada banyak tokoh yang pada waktu itu ikut menyumbangkan gagasan dan pikirannya. Semua dilakukan semata-mata untuk landasan utama sebuah bangsa. Tokoh yang menyumbangkan ide dan gagasannya yaitu adalah Moh.Yamin, Prof. Dr. Soepomo, Ir. Soekarno, Kaum agamawan dan bahkan tokoh-tokoh dari negara lain pun ikut mempengaruhinya. Bangsa lain yang turut mempengaruhi ideologi apa yang akan dipilih oleh Indonesia adalah Amerika Serikat dan Russia. Amerika dengan paham Liberalis- Kapitalismenya sedangkan Russia dengan paham Komunis-Sosialismenya. Ada juga beberapa kaum agamawan yang menginginkan bahwa ideologi yang cocok dan tepat untuk negara ini adalah berdasarkan konsep negara Islami. Tak lupa juga bila kita masih mengingat peristiwa kelam tersebut, Moh. Hatta pun ikut turut menyampaikan gagasannya mengenai pemilihan konsep gagasan ideologi sebuah bangsa. Moh. Hatta mengatakan bahwa bangsa Indonesia tengah mendayung diantara dua pulau karang yang besar. Dua pulau karang yang besar yang dimaksudkan oleh Moh. Hatta pada waktu itu ialah AS dan Russia.

Akhirnya melalui pemaparan dan presentasi panjang setiap tokoh pada saat itu, terpilihlah gagasan yang diutarakan oleh Ir. Soekarno. Gagasannya yang bernama Pancasila akhirnya dipakai sebagai landasan utama dalam kehidupan bernegara. Bukan dengan semata-mata karena rasa egoismenya. Tapi konsep Ir. Soekarno lah yang menurut seluruh Rakyat Indonesia tepat dan baik untuk diterapkan pada kehidupan masyarakat Indonesia nantinya. Selayaknya, hakikat Pancasila dijadikan sebagai ideologi utama bangsa yaitu untuk mempersatukan seluruh elemen dan unsur-unsur yang ada ditengah-tengah masayarakat. Pancasila secara fundamental, merupakan konsep ideologi bernegara yang lahir melalui penggalian nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Dimana pada waktu itu, negara kita masih terdiri dari berbagai macam kerajaan, perpecahan, dan berbagai macam kesukuan. Nilai-nilai dan kebudayaan yang ada pada setiap masyarakat Indonesia waktu itu, disinergiskan satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan bahwa para Tokoh-tokoh pendiri bangsa pada saat itu melihat bahwa betapa majemuknya masyarakat Indonesia. Sehingga diharapkan akan terjadi Integrasi baik secara Sosial maupun secara Nasional. Akhirnya, yang diharapkan oleh konsep dan gagasan Pancasila ini ialah menekankan bahwa setiap masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang religius (sila pertama), menjadi manusia yang beradab (sila kedua), bersatu dalam perbedaan (sila ketiga), menjadi sebuah rakyat yang penuh dengan hikmat bijaksana (sila keempat) dan menekankan keadilan yang merata tanpa pandang bulu (sila kelima). Ya itulah kosep dan gagasan ideologi yang terpilih dari antara konsep gagasan lainnya. Semua dibentuk dan di desain sebaik mungkin demi Indonesia yang Merdeka, Bersatu dan Berdaulat.

Pancasila terus berkembang dari tahun 1945 sampai pada saat sekarang ini. Terutama pada saat zaman modern ini. Pancasila telah digunakan sebagai landasan ideologi bangsa ini sudah 70 Tahun lamanya. Namun mengapa dengan konsep negara ini kita juga belum mampu menjadi negara yang super power dan maju ? padahal ada sebuah negara yang baru merdeka dan memilih ideologi liberal/komunis bisa menjadi maju. Apa yang salah dari negara ini ? apakah idologi yang tidak cocok atau masyarakatnya yang sekarang ini kurang mengerti akan Pancasila ? mengapa kita masih sering terjebak pada konflik bernuansa SARA ? apakah Pancasila di era globalisasi ini hanyalah sebagai simbol belaka saja ? itu semua bisa kita jawab di dalam hati.

Hakikatnya, Aku mengamati bahwa eksistensi Pancasila di tengah kehidupan modern bukanlah sebagai semboyan utama bangsa dan negara ini. Pancasila merupakan simbol yang hanya diingat atau mungkin terpasang pada kostum jersey sepakbola negara Indonesia. Bahkan di era modern ini, penerapan dan pengimplementasian nilai-nilai Pancasila masih minim sekali. Pada saat sekarang, para pemimpin negara kita ini, telah dibutakan oleh kepentingan pribadi belaka saja. Mereka tak lagi sadar, bahwa mereka telah jatuh pada konspirasi asing yang bernama Hegemoni (penjajahan yang menyenangkan setiap masyarakatnya). Tak ada lagi keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang diberikan kepada setiap rakyatnya. Tak hanya pemimpin negara ini, setiap unsur elemen masyarakatnya pun juga sama. Tak ada pengaplikasian nilai-nilai Pancasilais dalam kehidupan mereka. Mereka hanya terpaku pada hedonisme, harta dan tahta. Bukannya malah memperbaiki kondisi bangsa dan negara ini, bahkan dari beberapa segelintir kubu masyarakat lainnya malah ingin mengubah konsep bernegara Pancasila ini. Mereka beranggapan bahwa di era masyarakat modern ini, ideologi Pancasila sudah tidak lagi cocok dan mampu menyesuaikan dengan perubahan masyarakat yang ada. Padahal telah bersusah payah dahulunya para “The Foundings of Father” membentuk konsep dan gagasan ideologi tersebut, rusak dan hancur karena segelintir orang yang memiliki kepentingan untuk mengubah ideologi pancasila menjadi ideologi yang berhaluan agamis. Ketidaksepahaman dan perbedaan kepentingan sering kali menjadi pemicu kerusakan negara ini. Hampir semua masyarakat di negeri ini hanya mampu berteori dan berkata-kata saja untuk mewujudkan perubahan, namun tak ada sedikitpun aplikasi dan implementasi dari omongan tersebut. Tak ada tindakan yang menekankan pada perubahan. Singkat kata, guyonan NATO (Not Action Talk Only) lah yang cocok untuk masyarakat Indonesia.

Padahal bila sekiranya Pancasila dipupuk dan diberikan sedikit tempat dalam diri setiap individu, dan diajarkan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kehidupan bernegara yang semakin mengglobal penuh persaingan niscaya PANCASILAKU tak akan lagi hanya sekedar menjadi unsur SIMBOLIS saja bagi bangsa dan negara ini.


“PANCASILA AKAN  BERMANFAAT DAN DAPAT DIRASAKAN DENGAN NYATA BAGI BANGSA DAN NEGARA INI APABILA DIAPLIKASIKAN DAN DIIMPLEMENTASIKAN DALAM KEHIDUPAN BUKAN HANYA DENGAN NATO”

Jumat, 29 Mei 2015

         EKSISTENSI “KOMPAS KEHIDUPAN” MASYARAKAT DI TENGAH PERUBAHAN BANGSA

          Perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi membuat segalanya ikut terjerus dalam sebuah perubahan. Perubahan datang dengan begitu cepat, tak ada ancang-ancang sedikitpun bagi kita untuk mempersiapkan itu semua. Perubahan di berbagai bidang telah merasuk kedalam sendi-sendi dan lika–liku kehidupan. Tak ayal, bangsa yang tak mampu pun akan tertinggal dengan kecepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan begitu cepat merambah dan mempengaruhi segalanya, dalam setiap hal kita akan terjerus oleh perubahan tersebut. Hampir seluruh bidang telah dipengaruhi oleh sebuah perubahan. Perubahan terjadi melalui berbagai banyak proses. Mulai dari pertukaran kebudayaan hingga hubungan perdagangan.
         Ketika kita berbicara mengenai Indonesia, yang terbangun dan terbenak dalam pikiran kita adalah  Bangsa yang Kaya tapi Miskin. Negeri yang katanya kaya Sumber Daya Alam nyatanya Miskin. Negeri yang katanya Sejahtera nyatanya Sengsara. Negeri yang katanya adil dan makmur, nyatanya Tidak seperti itu. Beribu pulau ada di Indonesia. Beragam hasil laut dan alam ada di Indonesia. Berbagai keragaman budaya, bahasa, suku, ras, dan bahkan segala yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainpun ada di negeri yang penuh dengan susu dan madu ini. Namun mengapa Bangsa ini belum bisa maju ? Mengapa bangsa ini seolah menjadi bangsa yang terbentuk dengan motif untuk memenuhi kebutuhan perut rakyatnya saja ? Mungkin pertanyaan itu menyadarkan dan mengetuk pintu hati kita yang paling terdalam untuk turut prihatin.
        Ada banyak motif dan penyebab mengapa indonesia sulit untuk berubah menjadi negeri yang maju dan mendapatkan kata layak sebagai negara yang berdaulaut. Sendi-sendi kehidupan negara telah dikuasai oleh berbagai pihak-pihak asing, baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi maupun pertahanan negara. Selain itu faktor ketidakdisiplin masyarakatnya membuat sering kali negeri ini sulit untuk diubah. Menurut beberapa ahli, sulit sekali rasanya membuat sebuah negara berkembang menjadi sebuah negara maju tanpa memiliki modal atau power apapun yang dimiliki oleh negara tersebut. Lantas apa yang harus dilakukan bangsa ini ? langkah apa yang diperlukan untuk menyelamatkan harkat dan martabat bangsa ini ? pernahkah kita berfikir bahwa lambat laun indonesia akan dijajah kembali oleh bangsa-bangsa lainnya ?
         Penyebab lainnya yang mengakibatkan mengapa negara yang subur dan makmur ini sulit untuk berubah adalah rasa nasionalisme serta kepentingan-kepentingan yang saling berbenturan. Sejuta masalah ada di negeri ini. Segudang kasus pun ada di negeri ini. Namun sering kali permasalahan-permasalahan yang ada di negeri ini tidak usut kelar dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Justru melalui berbagai pengamatan saya, masalah-masalah yang ada hanya ditimpakan dengan masalah-masalah baru yang berganti secara cepat. Sehingga kesannya hanya sebagai pengalihan isu belaka saja. Benar-benar rekayasa yang terstruktur, sistematis, dan masif. Hal ini membuktikan bahwa bangsa ini sudah sangat diambang kehancuran dan kegagalan sebagai bangsa yang adil, makmur, damai, sejahtera, serta negara yang berdaulat atas kekayaan alamnya sendiri. Namun, pernahkah selama ini kita berfikir mengapa kita terus menyalahkan pemerintah dalam ketidakbergunaan sistem yang dibangun ? mengapa kita selalu hanya bisa mencaci maki, mengejek, berdemo, menunjukkan aksi anarkis bila kita tidak mendapatkan keadilan? Pernahkah kita sebagai manusia selayaknya berintropeksi diri melihat segala realita yang ada di negeri kita sendiri ? Kemanakah rasa kepekaan sosial kita terhadap lingkungan sekitar kita ? Mungkinkah pemerintah sanggup mengurusi segala permasalahan-permasalahan yang ada, dari unit terkecil sampai unit terbesar dari Sabang sampai Merauke ?
       Memang selayaknya pemerintah itu memiliki tugas dan tanggung jawab yang tinggi untuk mengurusi rakyatnya. Bila pemerintah selama ini tidak memihak pada rakyat, untuk apa diadakannya berbagai macam kebijakan yang pro kepada rakyat? Tapi kemungkinan tak bisa dipungkiri, opini masyarakat yang beredar diluar sana adalah bahwa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah hanyalah pencitraan belaka saja. Kemungkinan itu karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Melalui tulisan ini saya mau menyampaikan bahwa apakah seluruh perubahan yang terjadi pada negara ini juga bukan bagian tanggung jawab dari kita bersama ?. Salah satu mengapa negara ini belum bisa menuju pada tahap perubahan adalah karena ketidakkonsistensian kita dalam segala aktivitas dan karakter kita. Bukankah sekecil aktivitas dan perilaku yang kita tampilkan itu akan mempengaruhi segala unsur-unsur yang lainnya ? Saya harus mengatakan bahwa karakter yang kita miliki dalam setiap diri itu merupakan wujud dari pada karakter bangsa kita sendiri. Selama ini, kita sebagai bangsa Indonesia hanya memiliki tujuan-tujuan belaka yang masih belum mampu untuk berfikir global, bahwa apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kebutuhan orang lain, dan apa yang kita lakukan belum tentu bermanfaat dan disukai oleh orang lain. Bukankah selama ini kehancuran negara dan bangsa ini kita juga yang menyebabkannya ? Sering kali kita sebagai manusia cenderung memiliki sifat egois, pragmatisme, dan bahkan mengikuti seluruh keinginan daging. Saya berfikir jika seluruh umat dan seluruh masyarakat di negeri ini memiliki sifat dan karakter seperti itu, bukankah karakter dan identitas bangsa kita juga seperti itu ? bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya ? coba mari kita renungkan hal tersebut dalam diri kita masing-masing. Sehingga dampaknya pun berimbas pada bangsa kita. Bangsa kita memiliki karakter yang seperti itu. Dikuasai oleh berbagai kepentingan egoisme, pragmatisme, hedonisme dan tak menghiraukan unsur-unsur kecil yang ada di dalamnya.
      Untuk itu saya mau menekankan tentang pentingnya eksistensi kompas kehidupan, kompas kehidupan bisa diartikan sebagai landasan filosofi yang menaungi segala tujuan kehidupan dari pada manusia itu sendiri. Apa yang dicari manusia dalam hidupnya, dan apa yang diinginkan setiap orang dari berbagai unsur-unsur tertentu guna membangun bangsanya?. Inti dari kompas kehidupan adalah bagaimana mengarahkan segala tujuan seseorang dengan mengenali terlebih dahulu karakter pribadi diri masing-masing, guna mencapai perubahan yang baik dan sistematis.  Saya mau katakan Apakah Tujuan dari didirikannya negara ini? apakah tujuan dibentuknya sistem yang begitu hebatnya sehingga kita pun yang membuat sistem itu sendiri tak mampu untuk menjalaninya ? kemanakah arah negara kita akan terjerus ? dan kemanakah arah para pemuda serta agen-agen perubahan mulai dari unit terkecil sampai unit terbesar akan berlabuh ? Berbagai sudut pandang mengatakan bahwa mengubah indonesia adalah dengan cara pendidikan karakter, pelatihan kepemimpinan, pelatihan kerja, dan lain-lainnya. Namun apakah dengan pendidikan karakter dan beragam cara yang dilakukan bisa terlihat hasilnya ? apakah bisa berhasil ? mari coba sesaat kita merenungkannya. Dimana tingkat keberhasilan pendidikan karakter, pelatihan kepemimpinan dengan perubahan bangsa ? nyatanya masih saja tetap seperti itu. Banyak orang yang bisa memimpin orang banyak, tapi barangkali ia pun belum mampu memimpin dirinya sendiri, banyak orang yang mengeluarkan kata-kata yang hebat, padahal aslinya ia berdusta ? banyak orang yang membuat dan memperketat kebijkan dalam bidang angggaran, nyatanya orang tersebutlah yang mengambil uang negara ?.
            Negeri ini membutuhkan kejelasan arah kehidupan, rasanya terlalu tinggi ketika kita berbicara mengenai perubahan. Bahkan mustahil rasanya mewujudkan perubahan itu sendiri kalau kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan belum mampu menyadari hakikat dirinya sendiri, belum mampu menyadari eksistensi dan esensi kehadirannya ditengah-tengah bangsa ini. Dan sulit rasanya mengubah bangsa dan negeri ini, ketika kita sendiri belum mampu untuk merubah diri kitasendiri. Setelah itu baru kita layak untuk menuntut sebuah perubahan tersebut. Banyaknya kemauan tidak sejalan dengan tugas dan tanggung jawab yang kita lakukan. Menuntut itu pasti, tapi bekerja dan menjalaninya belum pasti. Saya percaya ketika kita telah mengenal masing-masing karakter, sifat, sikap, kebudayaan, dan lain-lainnya yang ada di dalam diri dan lingkungan kita sendiri niscaya bangsa kita pun akan mencerminkan sifat dan karakteristik yang seperti itu.  Untuk itu saya ingin seluruh masyarakat indonesia jangan dulu mengatakan dan bermimpi kearah sebuah perubahan, jika ia sendiri pun tak mampu mengubah dirinya sendiri. Memang perubahan itu datangnya sangat cepat, siap tidak siap, suka tidak suka, perubahan itu datang kepada kita semua. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kedatangan perubahan itu dengan baik, dan bijaksana. Untuk itu melalui essay ini, saya mengingatkan bahwa sebelum mengarah keperubahan yang besar bagi bangsa ini, kita harus memperjelas dulu makna dari kata-kata berikut ini : Siapakah Saya ? untuk apa saya hidup ? kemanakah arah tujuan hidup saya ? apa saja yang telah saya lakukan untuk bangsa dan negara ini ? pantaskah saya menuntut hak sebelum kewajiban saya dilakukan ?
     Mungkin sepenggal pertanyaan itu bisa membuka pemikiran kita bersama sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang selayaknya bekerjasama satu sama lain tanpa memandang unsur SARA, berinteraksi yang harmonis, memahami satu persatu kebiasaan dan karakteristik orang-orang tertentu, memahami betapa pentingnya kehadiran sebuah arah tujuan hidup yang jelas. Ketika kita sebagai manusia dan insan generasi penerus bangsa hampir rata-rata memiliki hati, karakter, dan kepribadian yang baik, maka bangsa kita kita pun pasti akan menjadi bangsa yang baik, bijaksana, beradap dan berdaulat, adil dan makmur, serta penuh dengan kebahagiaan dan kesejahteraan.







“HAL YANG PALING ESENSIAL DAN DIBUTUHKAN OLEH NEGERI INI ADALAH PERTOBATAN, NISCAYA PERTOBATAN YANG SUNGGUH-SUNGGUH MEMBUAT BANGSA DAN NEGARA INI MAJU DITENGAH-TENGAH PERUBAHAN YANG SEMAKIN MENGGLOBAL”.